Hakim Pengadilan Tinggi Kuatkan Vonis Laminyo CS, JPU Ajukan Kasasi

 

TANJUNG REDEB – Masih ingat dengan Laminyo, Supriadi dan Wahyudin, yang pada 25 Januari 2018 lalu, divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjung Redeb hukuman 20 tahun penjara atas perbuatannya melakukan pembunuhan berencana terhadap Samir (57), pengusaha warga Jalan Gajah Mada Kecamatan Tanjung Redeb pada April 2017 lalu.

Rupanya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Berau, Nanang Prihanto mengajukan kasasi terhadap kasus ini. Kasasi diajukan, menurut Nanang, lantaran banding yang diajukan pihaknya ke Pengadilan Tinggi Provinsi Kalimantan Timur, justru menguatkan putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Redeb yang diketuai Ennierlia Arientowaty, yakni tetap 20 tahun penjara bagi Laminyo, Supriadi dan Wahyudin.

“Majelis Hakim Pengadilan Tinggi pada tingkat banding pada tanggal 16 Maret 2018, menguatkan putusan Pengadilan Negeri, yang artinya, Laminyo CS tetap divonis 20 tahun kurungan penjara,” bebernya kepada beraunews.com, Senin (23/04/2018).

“Berdasarkan putusan banding tersebut dan dengan pertimbangan tidak memenuhi rasa keadilan terutama bagi korban, kami sebagai JPU, setelah mendapat petunjuk dari pimpinan, menyatakan kasasi ke Mahkamah Agung tertanggal 3 April 2018,” tambahnya.

Baca Juga : Pembunuhan Berencana dan Sadis, Laminyo CS Divonis 20 Tahun

Memori kasasi, lanjut Nanang, sudah diserahkan pihaknya melalui Pengadilan Negeri Tanjung Redeb pada tanggal 11 April 2018 lalu. Untuk selanjutnya, Pengadilan Negeri yang mengirimkan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung.

“Insya Allah permohonan kasasi yang kami ajukan itu, sudah dikirimkan Pengadilan ke Mahkamah Agung,” ujarnya.

 

Terkait rasa keadilan yang dimaksud, Nanang mengatakan, pihaknya berpedoman pada yurisprudensi Mahkamah Agung (putusan Majelis Hakim Agung di Mahkamah Agung yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap), khususnya pada perkara Petrus Roly (45), terdakwa pembunuhan berencana atas tetangganya, Yulius Amaken (54) di Sei Bebanir Bangun, yang oleh Majelis Hakim Agung, divonis penjara seumur hidup dan berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) sejak 2 tahun lalu.

“Jadi Pengadilan Negeri yang sama, meski majelisnya berbeda, mendapatkan perkara yang dakwaannya sama, yakni pembunuhan berencana. Hanya saja, vonisnya mengapa berbeda. Inilah yang jadi keheranan kami,” tegasnya.

“Padahal, kalau menurut kami, perbuatan materil Laminyo CS, jauh lebih nyata dan lebih matang dibandingkan perbuatan Petrus Roly, dimana Laminyo ada perencanaan dan ada menyuruh orang bayaran untuk membunuh. Selain itu, tidak ada hal yang meringankan bagi Laminyo CS. Sementara, diperkara yang lain dan sudah menjadi yurisprudensi, secara jelas diketahui, jika Petrus Roly setelah melakukan perbuatannya, langsung menyerahkan diri,” tandasnya seraya mengatakan, setidaknya yurisprudensi Mahkamah Agung tetap dapat dipertimbangkan Majelis Hakim di Pengadilan Negeri, dan jika tak ada kendala, dan melihat masa penahanan Laminyo CS, harusnya sebelum Juni 2018 ini, putusan kasasi sudah inkrah.

Baca Juga : Tak Ada Tersangka Baru Pembunuhan Samir, Masih Jadi Pertanyaan

Untuk diketahui, Majelis Hakim Pengadilan Tinggi yang menyidangkan kasus Laminyo CS terdiri dari, Poltak Sitorus selaku ketua didampingi, Hakim Anggota Arthur Hangewa dan Suprapto.(NR Dewi/bnc)