SA Korban Pencabulan di Bawah Umur Pertanyakan Langkah Hukum Terhadapnya, Ini Jawaban HN

 

TANJUNG REDEB – Pernyataan SA (14) selaku korban pencabulan bahkan persetubuhan di bawah umur, yang meminta langkah hukum terhadap HN (36), pembina pramuka sekaligus pacar SA, yang ditudingnya sebagai pelaku sebenarnya, dibantah secara tegas oleh HN.

HN yang berkunjung langsung ke redaksi beraunews.com, Jumat (13/04/2018) ditemani AD, Pembina pramuka di SMP tempat SA sekolah mengatakan, dari seluruh pengakuan HN itu, yang benar hanya satu hal saja, selebihnya merupakan kebohongan besar.

“Yang benar hanya satu saja dan saya akui perbuatan itu, yakni bahwa saya memang pernah melakukan pencabulan terhadap SA saat ada even perkemahan di Prapatan. Itupun saya lakukan bukan atas dasar kemauan saya, melainkan SA sendiri yang menarik tangan saya dan mengarahkannya ke dalam rok yang digunakannya dan hanya berlangsung kurang lebih 3 sampai 4 menit atau kurang dari 5 menit. Tapi saya tegaskan, hanya itu saja yang saya lakukan, dan bukan persetubuhan. Hal inipun sudah saya sampaikan juga dipersidangan saat saya ditanya hakim,” bebernya.

BACA JUGA : JPU Ajukan Kasasi, Korban Pencabulan di Bawah Umur Pertanyakan Langkah Hukum Terhadap Oknum PNS

HN lalu menceritakan kronologis dari saat mereka awal pacaran hingga terjadinya pelaporan pencabulan dan persetubuhan atas diri SA. Untuk diketahui, kata HN, dirinya menjalin hubungan pacaran dengan SA 5 hari setelah lebaran Idhul Fitri 2017. Saat usia pacaran 2 minggu, SA menghubunginya untuk bertemu, sebab ada hal yang sangat rahasia yang akan disampaikannya. Rahasia tersebut, menurut pengakuan SA kepada dirinya, hanya diketahui SA, ayah kandung SA sendiri Sopian Hari (42) dan Tuhan. 

Lantaran posisi dirinya masih di kantor, lanjut HN, dirinya kemudian menawarkan agar rahasia tersebut disampaikan SA melalui saluran telepon saja. Tetapi tawaran tersebut ditolak oleh SA, sebab SA takut pembicaraan tersebut didengar ibunya. Singkat cerita, jam 19.00 Wita, akhirnya dirinya dan SA bertemu di Tepian Teratai.

“Ternyata rahasia yang disampaikan SA adalah, bahwa dia sudah disetubuhi ayah kandungnya dalam 2 tahun belakangan ini, tepatnya sejak SA masuk SMP. Bahkan, saat itu dia mengatakan, terakhir kali ia disetubuhi ayahnya di rumahnya, tepatnya saat ibunya melahirkan di RSUD Abdul Rivai. Artinya, dari kami jadian, dia baru saja disetubuhi oleh ayahnya. Sebab kami jadian itu, saat ibunya masih di RSUD,” ungkapnya.

Mendengar pengakuan ini, lanjut HN, dirinya tentu saja kaget dan menyarankan agar SA melaporkan kejadian ini ke kantor polisi. Namun, saat itu SA belum mau, sebab ia terlebih dahulu harus memberitahukan kejadian ini ke ibu kandungnya. Akhirnya, dirinya mengantarkan SA pulang ke rumahnya di Jalan Gatot Subroto RT 5, Kelurahan Sei Bedungun, Kecamatan Tanjung Redeb, dan ia kembali ke Tepian Teratai untuk memikirkan pengakuan HN.

“Karena bingung, akhirnya saat di Tepian Teratai, saya minta pendapat kepada salah satu pedagang di sana, yang memang saya kenal baik dan langganan saya dari dulu. Olehnya, juga disarankan agar kejadian ini secepatnya harus dilaporkan ke kantor polisi. Sebab, menurutnya, SA itu korban sekaligus saksi hidup, yang jika diketahui ayah kandung SA, dikhawatirkan membahayakan bagi SA sendiri. Mendengar saran tersebut, saya langsung takut dan memutuskan pergi ke rumah SA,” tuturnya.

Dalam perjalanan menuju rumah SA, lanjut HN, ia memutuskan untuk mengajak AD. Saat tiba, di rumah SA, ternyata SA sudah menceritakan kejadian tersebut kepada Iw (38) ibu kandungnya, dan Iw menyerahkan ke dirinya dan AD bagusnya seperti apa mengatasi persoalan ini. Sebab, saat itu, Iw mengatakan, sudah tak bisa apa-apa lagi, lantaran badannya sudah lemas mendengar pengakuan SA.

“Atas dasar itu, kami (HN dan AD-red) dan SA melapor ke Polsek Tanjuk Redeb pada malam itu juga sekitar pukul 21.30 Wita, dan di Polsek diarahkan ke Polres Berau lantaran di Polsek tak ada unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) yang menangani persoalan ini, mengingat SA masih di bawah umur,” tuturnya diamini AD.

Saat di Polres Berau, laporan SA dicatat dan SA difoto. Bahkan, malam itu juga SA dibawa ke RSUD untuk di visum ditemani oleh 3 orang anggota Polres Berau. Selesai visum, dokter bertanya ke SA, siapa orang yang bisa dipercayanya untuk memberitahukan hasil visum tersebut, sebab rahasia ini tidak boleh terbongkar. SA lalu menyebut nama dirinya.

“Saat itu, dokter mengatakan, jika SA sudah hamil 4 minggu tapi dia keguguran. Yang ditakutkan dokter, masih ada sisa-sisa keguguran di dalam tubuh SA, dan diminta agar SA menemui dokter spesialis kandungan di Klinik Kasih Ibu. Namun dokter di Klinik Kasih Ibu menyatakan, SA tidak hamil dan tidak keguguran, melainkan ia sedang mengalami menstruasi,” katanya yang juga dibenarkan AD.

“Selesai visum, kami kembali ke Polres dan di Polres, kami diminta pulang ke rumah masing-masing. Tapi, diminta kembali keesokan harinya jam 10 pagi dengan membawa Ibu kandungnya SA. Saat jam 10 itu, di Polres sudah ada P2TP2A,” tambahnya.

Terkait pengakuan SA jika ia tak mungkin dipengaruhi ayahnya mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP), lantaran setiap kali ke Rutan menjenguk ayahnya, ia selalu ditemani ibu kandungnya? HN mengatakan, jika hal itu lagi-lagi merupakan kebohongan. Sebab, faktanya dirinyalah yang sering kali menemani SA setiap kali menjenguk Sopian Hari di rutan.

“Sayalah yang menemani SA menjenguk ayahnya di rutan, terkadang ibunya ikut juga,” katanya.

Lalu apa tujuan SA membesuk ayahnya, bukankah ayahnya sebagai terdakwa pencabulan atas dirinya? Ditanya begitu, HN mengatakan, tak mengetahui tujuan SA membesuk. Pasalnya, setiap kali menemani membesuk, dirinya hanya menunggu di luar rutan, sementara SA masuk sendirian ke dalam rutan menemui bapaknya.

“Tapi terakhir saya mengantarkan dia, dalam perjalanan pulang SA sempat mengatakan jika ia menyesal sudah melaporkan bapaknya, yang berakibat ekonomi keluarganya menjadi berantakan. Selain itu, SA juga mengatakan, menyesal tak ikut melaporkan saya sebagai pelaku pencabulan. Sebab menurut SA, saya juga telah mencabulinya,” imbuhnya.

“Seumur hidup saya, tidak pernah berurusan dengan hukum. Tapi karena membantunya, malah saya dituduhnya berbuat pencabulan dan membuat skenario ini. Logikanya, saat pelaporan di kantor polisi, kami baru jadian 2 minggu, sementara dia sudah disetubuhi selama 2 tahun oleh bapak kandungnya sendiri,” tandasnya.(bnc)