JPU Ajukan Kasasi, Korban Pencabulan di Bawah Umur Pertanyakan Langkah Hukum Terhadap Oknum PNS

 

TANJUNG REDEB – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Berau, Nanang Prihanto memastikan ajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Redeb membebaskan Sopian Hari (42) yang diduga mencabuli anak kandungnya sendiri SA (14).

Langkah kasasi ini ditanggapi secara terbuka oleh SA melalui akun facebook miliknya AH. Dalam tanggapannya, SA mempertanyakan langkah hukum terhadap HN (36), guru pramuka sekaligus pacar SA, yang dalam fakta persidangan, mengakui telah mencabuli dirinya. Tanggapan SA ini sekaligus mempertegas, jika pelaku pencabulan terhadap dirinya, bukanlah ayah kandungnya, melainkan HN.  

“Bagaimana dengan HN tersangka yang mengakui aksi pencabulannya terhadap saya di depan Jaksa dan Hakim? Kenapa tidak ditindaklanjuti dan berjalan. Apa saya harus menyerahkan diri atas dasar laporan palsu?” tulisnya menanggapi berita beraunews.com, Rabu (11/04/2018) sore.

BACA JUGA : JPU Ajukan Kasasi, Kasus Sopian Terdakwa Dugaan Cabuli Anak Kandung Terus Berjalan

SA bahkan secara gamblang merincikan tempat dan waktu terjadinya pencabulan yang dilakukan HN terhadap diriya. Bahkan, salah satu lokasi pencabulan yang diungkapkan SA, diduga dilakukan HN di kantor tempatnya bekerja sebagai PNS. 

“Apa saya harus membawa sendiri HN yang melakukan pencabulan kepada saya di beberapa lokasi, seperti di Inhutani (setiap pulang kerja saat bapak saya di dalam penjara), Kantor sebelah Bupati (berapa kali saya dibawa kesana), Prapatan (siang hari waktu bapak saya masih di luar penjara dan bekerja cukup jauh),” bebernya.

BACA JUGA : Pelaku Sesungguhnya Terungkap, Sopian Terdakwa Cabuli Anak Kandung Bebas Murni

Terkait keterangan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Berau yang menurut JPU mengarahkan jika terdakwa pencabulan adalah ayah kandungnya sendiri, secara tegas juga dibantah SA.

“Kenapa dia (HN-red) tidak ditindaklanjuti? Saya ingat kata-kata HN yang membujuk saya untuk membela dia, agar pihak P2TP2A tidak menceritakan aksi cabulnya ke pihak berwenang,” tuturnya.

Motif dirinya memutarbalikkan fakta, menurut SA, lantaran ia dendam dan emosi kepada Sopian Hari yang menduakan Iw (38), ibu kandungnya saat tengah hamil besar adik terakhirnya.

“Saya minta maaf karena dendam dan emosi, saya membuat keterangan seperti itu, tapi sejujurnya kasus itu tidak benar. Saya sama sekali tidak pernah di sentuh lebih dari pada anak sendiri. Saya memutar balik semua memori saya untuk membuat hukuman karena dendam terhadap bapak saya yang menduakan ibu saya saat hamil besar adik terakhir saya. Saya pikir dengan membuat bapak saya merasa menderita dan hidup tanpanya, saya bisa menghidupi keluarga saya, ternyata tidak,” ujarnya.

Terkait kemungkinan SA mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) lantaran dipengaruhi Sopian Hari dan SA dalam keadaan dilema, SA lagi-lagi membantahnya. Diakuinya, ia sering membesuk Sopian Hari selama berada di Rutan Kelas IIB Tanjung Redeb, namun selama itu, sama sekali ia dihasut atau dipengaruhi untuk mencabut BAP.

“Bukan karena ekonomi saya mencabut BAP, tapi karena rasa bersalah dan menuntut hukuman yang membuat Bapak saya cukup menderita,” katanya.

“Saya seblum mencabut BAP memang sering besuk bapak saya untuk minta maaf dan melihat kondisinya. Jika ada yang berpikir saya dipengaruhi bapak saya untuk mencabut semua keterangan BAP, itu tidak benar. Karena saya besuk tidak sendiri, saya bersama ibu saya dan jika memang bapak saya menghasut saya, tentu tidak mungkin ibu saya membiarkan hal itu, pastinya ibu saya keberatan dengan hasutan bapak saya, bahkan mungkin ibu saya bisa saja melaporkannya ke pihak berwajib. Tapi sama sekali tidak ada hasutan atas pencabutan BAP,” tandasnya.(bnc)