Haris Buka-Bukaan Soal Kasus Korupsi Bimtek DPRD Yang Menimpanya

 

TANJUNG REDEB – Meski sudah inkrah dan terpidana sudah menjalani hukuman penjara, ternyata kasus korupsi bimbingan teknis (bimtek) yang diikuti anggota DPRD periode 2009-2014 kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Apalagi setelah komentar yang disampaikan Anik Yuliana istri terpidana korupsi, Abdul Haris, Selasa (11/10/2016) kemarin.

Ditemui awak media di Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIB Tanjung Redeb, Rabu (12/10/2016), Haris membenarkan apa yang disampaikan istrinya. Dikatakan Haris, masih ada yang mengganjal terkait hukuman yang harus ditanggungnya. Menurutnya, dirinya terkesan dijadikan tumbal dalam kasus ini.

“Saat itu saya bersatus sebagai pendamping bersama Event Organizer (EO) dalam bimtek Sekretariat DPRD Berau anggaran tahun 2012-2013. Namun kenapa hanya saya saja yang masuk, sementara yang lain tidak,” bebernya.

BACA JUGA : Kasus Bimtek Sudah Inkrah, Istri Tersangka Kecewa Dengan Anggota DPRD Berau Periode 2009-2014

Haris juga mengungkapkan, ada beberapa anggota dewan pada saat itu yang mendatanginya dan memintanya untuk tidak membuka semua kasus ini. Dengan kesepakatan menanggung biaya anak dan istrinya selama di penjara.

Masih menjadi harapan terbesarnya terkait pengembalian uang yang menjadi kerugian negara. Sebab seluruh peserta, yakni 25 anggota dewan serta pendamping selama 5 kali Bimtek juga menggunakan dana tersebut.

“Saya harap mereka dapat segera membayar uang ganti rugi negara agar saya segera bebas, sesuai dengan apa yang dijanjikan sebelumnya. Jika sudah terbayar, seharusnya saya sudah bebas pada Agustus lalu. Jumlah yang harus dibayar Rp359 juta, diataranya Rp309 juta kerugian negara dan Rp50 juta denda hukuman,” bebernya.

Dalam kasus ini, dikatakan Haris, dirinya divonis 2 tahun 8 bulan penjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Samarinda pada 6 Juli 2015 lalu. Akibat kasus ini, harta bendanya pun sudah habis dijual untuk menanggung kerugian yang diputuskan saat itu, yang nilainya mencapai Rp500 juta dan kemudian turun menjadi Rp300 juta. Hal ini setelah ada negosiasi dengan Pengadilan Tinggi Samarinda, seperti dituturkan Anik sebelumnya.

“Jika dihitung dari anggaran yang saya gunakan, seharusnya saya hanya mengembalikan Rp5 juta saja, sementara sisanya oleh peserta bimtek ini yang jumlahnya 53 orang, 25 diantaranya anggota DPRD Berau periode 2012-2013,” keluhnya.

Beberapa anggota dewan periode 2009-2014 yang disebutkan Haris, enggan berkomentar banyak saat dihubungi awak media melalui sambungan telepon. Seperti Wakil Ketua I DPRD Berau, Sa’ga. Dirinya menyebutkan, pihaknya tidak pernah memberikan janji untuk menjamin kebutuhan anak istri Haris selama menjalani masa tahanan. Namun, hanya sebagai bentuk kepedualian terhadap keluarga Haris.

“Soal patungan yang dimaksud itu saya kurang tahu juga, yang jelas kami tidak pernah memberikan janji untuk menjamin keluarga Haris agar tidak terlalu banyak berbicara tentang kasus bimtek di DPRD saat itu. Hanya saja kita memberikan imbalan sebagai bentuk keprihatinan saja kepada keluarganya. Sampai dimana sih kemampuan saya untuk menanggung biaya keluarganya. Coba konfirmasi ke yang lainnya, kan bukan nama saya saja yang disebut-sebut,” tutupnya.(M.S. Zuhrie)