Penipuan Berkedok Mualaf Sudah “Sering” Terjadi

 

TANJUNG REDEB – Tampaknya kewaspaadan terhadap kasus penipuan berkedok mualaf memang pelu ditingkatkan. Pasalnya, sudah 3 kali kasus serupa terjadi di Kabupaten Berau. Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Kementerian Agama Berau, Alfi Taufik melalui Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas) sekaligus Penyuluh Agama Islam, Syarifuddin Ismail.

Dikatakannya, berdasarkan informasi yang diperoleh pihaknya dari organisasi atau komunitas umat Isalm di Berau, kejadian penipuan berkedok mualaf ini, sudah 3 kali terjadi di Kabupaten Berau dalam beberapa waktu terakhir.

“Pelakunya pun berbeda-beda, ada yang mengaku dari Kalbar, Jakarta maupun Kupang,” ungkapnya kepada beraunews.com, Selasa (06/02/2018).

Baca Juga : Waspada, Berau Salah Satu Sasaran Penipuan Berkedok Mualaf

Namun, untuk korbannya, Syarifuddin mengaku tak mengetahuinya secara pasti. Namun, dari pola kerjanya, pelaku sengaja mengincar jamaah yang suka menyumbang, yang kemudian dimanfaatkan untuk menyumbang dana, dengan dalih untuk pengurusan kedatangan dai kondang dari Jakarta.

“Yang jelas korban berasal dari komunitas umat Islam yang suka dengan ceramahnya dan mengetahui jika pelaku merupakan mualaf yang hebat. Setelah pelaku berhasil mengumpulkan dana, ternyata yang dijanjikan (dai kondang-red) tidak kunjung sampai. Inilah yang kemudian ditafsirkan penipuan, sebab memang ada unsur penipuan didalamnya,” urainya.

Memang, tambah Syarifuddin, sebagai muslim, sudah menjadi kewajiban untuk melayani mualaf. Namun dengan terjadinya 3 kasus penipuan berkedok mualaf ini, ia mengimbau agar saudara-saudara muslim untuk lebih berhati-hati, lebih cermat, jangan mudah percaya serta lebih meningkatkan kewaspadaan.

“Atas nama Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia, kami mengimbau umat Islam agar berhati-hati dan waspada terkait segala sesuatu yang mengatasnamakan Islam, mengatasnamakan mualaf, karena sekarang ini banyak cara yang dilakukan orang untuk meraih keuntungan pribadi, Cukuplah, ini kejadian yang terakhir. Boleh percaya, kecuali dinaungi langsung oleh Muallaf Center Indonesia (MCI),” tandasnya.(Miko Gusti Nanda/bnc)