Berulang Kali Diamankan, Remaja Inhalan Butuh Pembinaan

TANJUNG REDEB- Maraknya aksi inhalan yang dilakukan remaja masih menjadi PR besar bagi instansi yang berwenang menanganinya. Pasalnya, hingga saat ini remaja yang melakukan aksi inhalan masih terus ditemukan. Bahkan aksi tersebut tidak segan dilakukan di tempat umum. Inhalan adalah seseorang menghirup uap dari zat pelarut (thinner cat), uap lem, atau zat lainnya yang dapat membuat mabuk.

Salah satunya seperti yang diungkapkan Syahrie, salah seorang warga, yang mengaku menemukan beberapa kaleng lem bekas pakai beserta kantong plastik di dermaga wisata (di depan gedung perpustakaan daerah) yang terletak di Jalan Milono, Tanjung Redeb.

Diakuinya, kaleng lem bekas pakai tersebut merupakan milik remaja yang kerap berkumpul di dermaga wisata tersebut. Ia sangat menyayangkan adanya hal itu, sebab menurutnya aksi inhalan merupakan salah satu faktor yang membuat generasi muda menjadi rusak.

“Itu bahaya sekali. Kalau dibiarkan apa tidak rusak generasi kita dengan aksi inhalan ini?,” ungkapnya sembari menunjukkan beberapa kaleng lem bekas yang ditemukannya.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Ahmad Ismail, yang dimintai tanggapannya terkait hal tersebut mengatakan, pihaknya telah melaksanakan patroli keliling setiap hari, termasuk di beberapa tempat yang rawan disalahgunakan, seperti taman dan tempat-tempat hiburan anak muda.

“Rata-rata setiap hari kami patroli bisa sampai 6 kali. Kalau ada laporan anak-anak ngelem di taman juga langsung kami amankan. Tapi mungkin ini anak-anaknya tidak jera, sehingga masih saja bisa ditemukan,” ujarnya kepada beraunews.com, Senin (21/08/2017).

Ada hal yang lebih penting selain mengamankan remaja yang melakukan aksi inhalan, dikatakan mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan ini, hingga saat ini tidak ada instansi yang melakukan pembinaan setelah diamankan oleh Satpol PP.

“Yang harus menjadi perhatian kita, mau dikemanakan anak-anak ini setelah diamankan? Dibina bukan kewenangan Satpol PP, maksimal kami hanya bisa memanggil orang tua yang bersangkutan, diminta membuat pernyataan setelah itu dilepas kembali. Nanti akan melakukan lagi, begitu seterusnya,” ungkapnya.

Ia pun berharap remaja yang melakukan aksi inhalan tersebut dapat segera ditangani oleh instansi yang berwenang, sehingga tidak menjadi penyakit berkesinambungan yang menghantui generasi muda Berau.

“Semoga setelah ini ada instansi berwenang yang bergerak melakukan pembinaan kepada anak-anak kita ini, jangan sampai mereka rusak karena berawal dari mengelem,” tandasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: Rita Amelia