Dokter Gadungan Asal Tiongkok Diamankan Imigrasi

TANJUNG REDEB – Kantor Imigrasi Kelas III Tanjung Redeb kembali mengamankan 2 orang Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok, bernama Huang Wenbin (40) dan Huang Zhezhong (50). Kali ini, WNA tersebut diamankan saat hendak melakukan aksinya sebagai dokter gadungan dan menjual berbagai macam obat-obatan tradisional di Kampung Merancang Ilir, Kecamatan Gunung Tabur, Selasa (9/8/2016).

Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Tanjung Redeb, Erwin Hariyadi mengatakan, kedua WNA tersebut diketahui sudah ada di Berau sejak 2 Agustus 2016 dan sebelumnya tinggal di Lampung. Selain itu, keberhasilan pengungkapan WNA sindikat penjual obat-obatan tradisional itu berawal dari informasi warga Kampung Merancang Ilir, Selasa (9/8/2016).

“Di Kampung Merancang Ilir, ada orang yang diduga orang asing dan tidak bisa berbahasa Indonesia mengadakan pengobatan kepada masyarakat dan juga menjual obat,” jelasnya saat konferensi pers di ruang Sekretariat Tim Pengawasan Orang Asing (TIM PORA) Kantor Imigrasi Kelas III Tanjung Redeb, Rabu (10/8/2016).

Atas informasi tersebut, dikatakan Erwin, pihaknya langsung menindaklanjutinya dengan segara menuju ke Kampung Merancang Ilir. Setiba dilokasi, pihaknya terlebih dulu menyamar dan berpura-pura sebagai pasien yang ingin berobat. Setelah, yakin jika keduanya WNA, baru pihaknya mengamankan keduanya.

“Kami juga diperiksa oleh mereka,” tambahnya.

Dikatakan Erwin, berdasarkan pemeriksaan awal, kedua WNA tersebut tidak bisa menunjukkan paspor kebangsaannya. Mereka hanya bisa menunjukkan foto copy paspor dan KTP atas nama Hendrawan, tempat lahir Lampung tanggal 16 April 1976 dan SIM A asal Lampung atas nama Huang Wenbin, tempat lahir Lampung tanggal 16 April 1976.

“Apakah foto copy paspor ini asli atau tidak, sedang kami telusuri ke Kedutaan Besar Cina yang ada di Jakarta,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) Kaltim, Agus Saryono yang turut menghadiri konferensi pers menjelaskan, pemerintah pusat telah mengambil suatu kebijakan dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 21/2016 tentang Bebas Visa Kunjungan Bagi 169 Negara, termasuk negara-negara ASEAN, Afrika dan Cina.

“Mereka boleh berkunjung dengan leluasanya ke negara kita,” jelasnya.

Kebijakan ini mempunyai dampak positif dan negatif. Salah satu dampak positifnya, meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia yang tentunya akan menambah devisa negara. Namun, implikasi dari kebijakan tersebut juga ada, apabila visa kunjungan itu disalahgunakan.

“Sebagai konsekuensinya, maka sudah menjadi kewajiban bagi semua stakeholder yang berkepentingan dalam pelaksanaan pengawasan orang asing tersebut. Khususnya imigrasi, ini juga harus bekerja keras tentunya,” pungkasnya. (Sai)