Begini Cara 2 Nelayan Talisayan Bisa Selamat

TALISAYAN – Jika takdir berkata, maka niscaya akan terjadi. Demikian pula nasib kedua nelayan yang hilang di perairan Talisayan. Kamsir (26) warga RT 13 dan Suppi (40) warga RT 15 Kampung Talisayan Kecamatan Talisayan, akhirnya ditemukan diperairan Minahasa Selatan, Sulawesi Utara dalam keadaan selamat. Selamatnya dua nelayan tersebut bukan merupakan sebuah kebetulan. Pasalnya, sebelum hanyut berhari-hari di laut lepas, mereka diyakini telah melakukan persiapan dengan berbagai perlatan seperti pelampung dan bahan makanan.

Menurut Hasan Basri, bos yang mempekerjakan ke dua nelayan tersebut, sebelum benar-benar hanyut, mereka sudah beberapa hari sebelumnya telah melakukan persiapan. Sejumlah bahan makanan disiapkan sama halnya seperti hari-hari sebelumnya.

Menurut keterangan Kamsir saat dihubunginya, menceritakan kondisi mereka selama hanyut. Bagan yang ditempati sempat bertahan selama 6 hari dilautan sebelum akhirnya pecah dihantam ombak.

"Selama di bagan, logistik mereka mencukupi. Tapi karena bagannya bocor dan mesin alkon mati, hari ke enam itu bagannya terbalik," jelas Hasan kepada beraunews.com.

Dijelaskannya, sebelum bagan terbalik, mereka mencari cara dan berpikir untuk bertahan hidup, pasalnya bagan tersebut dalam keadaan bocor. Bahkan, mesin alkon yang memang sudah tersedia di bagan tersebut dinyalakan selama empat hari empat malam untuk menyedot air agar bagan tidak cepat tenggelam.

Mengantispasi hal itu, Kamsir dan Suppi terus mempersiapkan sesuatu. Selain menyiapkan jiwa dan raga, mereka juga membuat pelampung untuk digunakan saat berada di air.

"Hari ke enam itu bagannya terbalik di pertengahan laut antara Kalimantan dan Sulawesi. Jadi memang sudah antisipasi memang, bahkan pakaian, jerigen untuk pelampung dan pelastik pembungkus hand phone (HP) sudah mereka siapkan," katanya.

Ketika bagan terbalik, kedua nelayan itu melompat ke air dan hanya bergantung pada pelampung yang mereka buat. Sebelum ditemukan nelayan Minahasa Selatan, Basri mengatakan, sekitar enam hari keduanya hanyut, dan tetap menjaga diri agar tetap dalam kondisi sadar. Selama hanyut tak tentu arah itu, keduanya hanya membawa makanan secukupnya agar tidak begitu membebani pelampung yang mereka gunakan.

"Selama hanyut, hanya gula dan sedikit air tawar saja mereka makan dan minum sedikit demi sedikit untuk pengisi kekuatan mereka. Untungnya, Jum’at (1/7/2016) kemarin, mereka melihat perahu nelayan, dan berteriak sambil memberi tanda pada nelayan itu yang langsung memberikan penyelamatan," bebernya.

Sebenarnya, sebelum terdampar jauh ke Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Kedua nelayan tersebut sempat meminta pertolongan pada kapal tongkang yang saat itu kebetulan melintas. Meski sempat berteriak dan meminta pertolongan, tetapi tidak digubris oleh ABK kapal tersebut.

"ABK nya keluar dan lihat dua nelayan itu. Tapi tidak ditolong," ujarnya.

Meski harus menelan kerugian ratusan juta rupiah, namun dirinya cukup lega karena kedua pekerjanya tersebut sudah ditemukan dalam kondisi hidup.

"Saya sudah tidak lagi pikir bagannya, yang penting mereka selamat dan pulang berkumpul dengan keluarganya," pungkasnya.(hir)