WNA Asal Filipina Masuk Indonesia, Kapal Hanyut Lewat Kaltara

 

TANJUNG REDEB - 14 Warga Negara Asing (WNA) kembali memasuki wilayah Indonesia pada Kamis (01/06/2017) lalu.  Kali ini 14 WNA asal Filipina tersebut masuk wilayah Indonesia melalui Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Tanjung Redeb, Erwin Hariyadi, ketika dikonfirmasi beraunews.com, Jumat (02/06/2017), membenarkan bahwa ada 14 orang WNA asal Filipina yang masuk di wilayah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Sementara ini pihak Imigrasi masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap para WNA.

"Sementara ini masih kami lakukan pemeriksaan karena terdapat sejumlah pria dan wanita, bahkan yang masih di bawah umur," ungkapnya.

Erwin menambahkan, jika saat ini pihak Imigrasi mengarah ke Kabupaten Bulungan untuk melakukan pemeriksaan dari Informasi yang didapat, pada Kamis lalu sekitar pukul 07.30 Wita ditemukan WNA yang terdampar di pantai Pulau Bunyu dekat lokasi tambang.

"Imigrasi Berau juga membawahi Kalimantan Utara. WNA yang mengaku berasal dari Filipina ini terdiri dari 9 pria dan 5 wanita," tambahnya.

Dari informasi awal, ke 14 WNA masing-masing bernama Ahiyal Rizal Bonggan, Jumboy Hernane, Gonceta,Onesimus Wongaja,Janry Salim, Rayjan Salim, Riohard Pelexo, Joshua H Crepo,Marlyn H Crado,Rosmalin H Adjad, Nelia Agad, Cherish Danne A Damos, Asmad dan Iraf.

“Sementara ini kami belum mengambil sikap apakah nanti akan dibawa ke Berau atau tidak, yang jelas kami akan ke sana dulu untuk memastikan mereka WNA berasal dari mana," kata dia.

Erwin menambahkan, bisa saja ada kemungkinan lain terkait pada WNA tersebut. Bisa saja mereka merupakan WNI yang mungkin menetap lama di Filipina.

"Di Berau juga banyak suku yang berasal dari Filipina yang menetap di Indonesia. Biasanya mereka berdomisili di wilayah pesisir," bebernya.

Informasi sementara yang dihimpun jika mereka memang terdampar pada Minggu (28/05/2017) lalu. Mereka bertolak dari Kepulauan Bunggau Provinsi Tawi-Tawi Filipina Selatan dengan tujuan Pulau Setangkai masih Provinsi Tawi-Tawi, untuk bekerja budidaya rumput laut.

"Dalam perjalanan  mereka mengalami masalah karena kehabisan bahan bakar dan dalam kondisi cuaca buruk. Akibatnya kapal mereka hanyut hingga pantai Pulau Bunyu. Setelah diperiksa, baru bisa diputuskan akan diproses di mana," pungkasnya. (bnc)

Wartawan: Dedy Warseto/Editor: R. Amelia