Laptop dan HP Tidak Boleh Dibawa Naik Pesawat???

TANJUNG REDEB – Indonesia tidak melarang penumpang membawa laptop dan handphone ke dalam kabin pesawat, namun pemeriksaan terhadap elektronik ini akan dilakukan secara tersendiri. Biasanya, elektonik yang berada dalam tas diminta untuk dikeluarkan dan diperiksa secara tersendiri untuk melewati X-ray. Bila ada hal-hal yang mencurigakan, maka petugas akan meminta pemiliknya mengoperasikan terlebih dahulu. Demikian, penjelasan Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Agus Santoso dalam menanggapi berita yang beredar secara tidak benar.

“Kemenhub akan mengambil langkah hukum terkait dengan penyiaran informasi bohong melalui media sosial yang menyatakan bahwa Kemenhub melarang penumpang membawa laptop dan hp ke pesawat", ungkap Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kalimarau, Bambang Hartato dalam membacakan penjelasan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, yang dituliskan Kepala Bagian Kerjasama dan Humas Kementerian Perhubungan, Agoes Soebagio dengan siaran pers Nomor 33/SP/KJSH/IV/2017 tersebut.

Dikatakan Bambang, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menegaskan bahwa barang-barang elektronik bisa dibawa di kabin pesawat. Namun demikian, barang elektronik tersebut harus diperiksa dengan ketat. Pemeriksaan harus sudah dilakukan di dalam bandara sebelum penumpang naik ke dalam pesawat.

Dirjen Perhubungan Udara telah mengirimkan kembali Surat Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara kepada seluruh pengelola Bandara, yang mengingatkan bahwa keamanan barang elektronik penumpang, dalam pelaksanaanya diatur melalui ketentuan tertentu.

Ketentuan tersebut diatur dalam Surat Keputusan Dirjen Perhubungan Udara Nomor SKEP/2765/XII/2010. Kemudian, Surat Edaran Dirjen Perhubungan Udara Nomor SE.6 Tahun 2016.

“Keamanan penerbangan merupakan satu kesatuan dengan keselamatan penerbangan. Untuk itu, pengamanan terhadap barang-barang yang berpotensi dapat menganggu keselamatan penerbangan harus diperketat. Termasuk, diantaranya barang elektronik yang akan dibawa ke dalam kabin pesawat,” katanya.

Sesuai penjelasan Agus Santoso, lanjut Bambang, pengamanan tersebut sudah sesuai dengan ketentuan Anexes dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional dan Undang-Undang Nomor 1/2009 tentang Penerbangan. Pengamanan ketat terhadap barang-barang elektronik di dalam kabin, dilakukan dalam upaya mengantisipasi aksi terorisme menggunakan perangkat elektronika tersebut.

Tindakan pengamanan yang lebih ketat sebelumnya sudah dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat, Kanada dan Inggris terhadap beberapa penerbangan maskapai tertentu dari bandara di negara tertentu, di Timur Tengah dan Turki menuju bandara di Amerika Serikat, Kanada dan Inggris. Yaitu, pelarangan membawa laptop (komputer jinjing) dan barang elektronik yang lebih besar dari telepon genggam (handphone) dalam kabin pesawat.

“Namun, sampai saat ini Pemerintah Indonesia belum memiliki aturan mengenai larangan membawa laptop dan barang elektronik yang lebih besar dari telepon genggam (handphone) ke dalam kabin pesawat. Untuk saat ini, barang-barang tersebut boleh dibawa ke kabin, namun harus dikeluarkan dari tas dan diperiksa terlebih dahulu melalui mesin x-ray,” lanjutnya.

Dalam SKEP/2765/XII/2010, disebutkan tentang Tata Cara Pemeriksaan Keamanan Penumpang, Personel Pesawat Udara dan Barang Bawaan yang Diangkut dengan Pesawat Udara dan Orang Perseorangan.

Dalam Pasal 23 butir b, point 3 pada SKEP 2765/XII/2010 disebutkan bahwa laptop dan barang elektronik lainnya dengan ukuran yang sama, dikeluarkan dari tas/bagasi dan diperiksa melalui mesin x-ray. Sedangkan, Surat Edaran Dirjen Perhubungan Udara Nomor SE 6/2016 mengatur tentang Prosedur Pemeriksaan Bagasi dan Barang Bawaan yang Berupa Perangkat Elektronik yang Diangkut dengan Pesawat Udara.

Dimana, dalam surat edaran tersebut, diinstruksikan pada semua kepala bandar udara di Indonesia untuk memastikan barang elektronik seperti laptop dan barang elektronik lain harus dikeluarkan dari bagasi atau tas jinjing dan diperiksa melalui mesin X-Ray.

Jika dalam pemeriksaan dengan menggunakan mesin X-Ray tersebut masih membuat ragu petugas pemeriksa barang (X-Ray operator), harus dilakukan pemeriksaan secara manual dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Pemilik barang menghidupkan perangkat elektronik tersebut
  2. Pemilik barang mengoperasikan perangkat elektronik tersebut
  3. Personel keamanan penerbangan mengawasi dan melihat hasil pemeriksaan dari perangkat tersebut.

“Pemeriksaan secara ketat barang elektronik tersebut, ditegaskan kembali dalam Instruksi Dirjen Perhubungan Udara Nomor 3/2017 Tentang Upaya Peningkatan Penanganan Bom (Bomb Threat) pada Penerbangan Sipil yang ditetapkan pada 30 Maret 2017, karena semakin maraknya isu ancaman bom,” pungkasnya.(bnc)

Wartawan: Andi Sawega/Editor: R. Amelia