Makin Berani, Penjualan Karapas Penyu Rambah Media Sosial

 

TANJUNG REDEB – Pelanggaran Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, masih saja banyak dilakukan oleh oknum pedagang yang tidak bertanggung jawab. Terbukti, perdagangan penyu, termasuk bagian tubuhnya seperti telur atau karapas, masih ditemukan.

Padahal, instansi terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Berau kerap melakukan sosialisasi, termasuk razia dengan turut mengamankan seluruh barang bukti perdagangan satwa dilindungi. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, guna memberikan efek jera, ancaman hukuman kurungan penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp100 juta turut menghantui setiap yang melanggar UU tersebut.

Namun, dengan aturan yang ada, sekali lagi tetap tidak membuat para oknum pedagang karapas penyu gentar. Bahkan, kali ini, seorang netizen dengan berani dan terang-terangan menjual karapas penyu melalui media sosial Facebook, Kamis (23/02/2017) siang.

Seperti dikutip dari postingan Iis S, karapas penyu bentuk cincin dan gelang itu dijual dengan harga Rp35 ribu. Selain itu, ia juga menjual gelang yang terbuat dari akar bahar (nama latinnya Euplexaura sp).

Postingan di grup Facebook “LAPAK JUAL BELI BERAU (PART 2)” ini, juga disertai foto cincin dan gelang, yang memang terlihat seperti terbuat dari karapas hewan yang tergolong dalam familia Cheloniidae itu. Tak lupa, ia juga menyertakan nomor telepon beserta pin Blackberry Messenger.

“Gelang akar bahar Rp35.000 – Kecamatan Kelay, Berau. Yang minat gelang sisik, gelang akar bahar, cincin. Minat hbgi z 082157096xxx. Pin-5B1C0xxx,” tulis di postingannya.

Postingan itu pun menuai berbagai komentar pro, yang menandakan berlakunya teori penawaran dan permintaan (dalam bahasa Inggris biasa disebut supply and demand) dalam ilmu ekonomi. Dimana, penggambaran atas hubungan-hubungan di pasar, antara para calon pembeli dan penjual dari suatu barang terjadi.

Ada netizen yang melontarkan pertanyaan terkait harga gelang dan cincinnya, ada juga yang menyampaikan, apakah akan diberikan potongan harga (diskon) jika membeli dalam jumlah banyak.

Seperti yang dituliskan pengguna akun Facebook lainnya, Said Hendry. Ia mempertanyakan keberadaan toko oknum pedagang tersebut.

“Dimana tokonya?” Komentar Said pada postingan tersebut seraya kembali mempertegas pertanyaannya.

Sementara itu, pengguna akun Facebook lainnya juga, Handayani Ani hanya mempertanyakan cincin yang terbuat dari akar bahar. Ia juga menambahkan ketertarikannya untuk melihat contoh akan kerajinan tangan tersebut.

Pertanyaan senada juga disampaikan Suyono Jogorogok, yakni terkait posisi kios yang menjadi tempat oknum pedagang itu berjualan. Sekaligus, apakah ada gelang yang terbuat dari akar bahar, yang berwarna merah.

“Posisi kios dimana? Gelang akar bahar khusus merah adakah..,” tanya Suyono.

Hingga berita ini diterbitkan, postingan itu tampaknya telah dihapus sehingga tidak terlihat lagi pada laman grup Facebook pemilik akun yang sebelumnya mempostingnya.(bnc)

Wartawan: Andi Sawega/Editor: R. Amelia