Karyawan Dipecat Sepihak, SBSI Datangi Bandara Kalimarau

 

TANJUNG REDEB – Mengetahui adanya pemecatan karyawan secara sepihak oleh managemen PT Garuda Tawakkal Abadi (GTA), DPC Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Berau, menggelar rapat bersama managemen PT GTA.

PT GTA ialah kontraktor pelaksana proyek perawatan Bandara Kalimarau, Teluk Bayur, dan karyawan yang dipecat merupakan Pengurus Komisariat (PK) PT GTA di Bandara Kalimarau.

Terlihat hadir jajaran pengurus DPC SBSI Berau, yakni Herman Palinggi selaku Ketua, Dani selaku Sekretaris dan lainnya. Sementara, pihak PT GTA diwakili oleh Suryono Yugo Pramono selaku Manager HRD.

Ketua DPC SBSI Berau, Herman Palinggi mengungkapkan, pengurus DPC SBSI Berau yang dipimpinnya telah menggelar pertemuan dengan manager HRD PT GTA, yang bertempat di kantor perwakilan PT GTA yang berada di Bandara Kalimarau. Pihak managemen PT GTA akan memberikan jawaban terkait permasalahan yang menjadi tuntutan SBSI Berau pada Jumat (06/01/2017) nanti, usai menggelar rapat dengan jajaran managemen PT GTA di kantor pusatnya yang berada di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Yang menjadi permasalahan dan tuntutan SBSI Berau yakni, adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak oleh managemen PT GTA kepada karyawannya, yang menjadi pengurus SBSI PK PT GTA.

“Anggota kita yang tergabung dalam SBSI pengurus komisariat yakni Ketua, Sekretaris dan Bendahara, itu di PHK sama PT GTA secara sepihak dengan intimidasi disuruh membuat surat pengunduran diri. Dan, membuat surat pernyataan yang disuruh perusahaan, untuk mengundurkan diri dari SBSI. Itu yang saya lihat tadi, itu tidak benar,” ungkapnya saat menyambangi redaksi beraunews.com, yang berada di Jalan H. Isa III, Rabu (04/01/2016) sore tadi.

Semestinya, lanjut Herman, surat pernyataan pengunduran diri dari kepengurusan SBSI yang diajukan karyawan itu, diajukan kepada SBSI secara langsung. Bukan mengajukan surat pernyataan pengunduran diri kepada organisasi melalui pihak perusahaan.

Karyawan yang di PHK itu, tambah Herman, juga langsung digantikan oleh karyawan yang dikirim dari Banjarmasin, Surabaya, dan Makassar. Karyawan pengganti itu juga bekerja tanpa melalui persyaratan yang semestinya, yakni menggunakan kartu tanda pencari kerja alias kartu kuning yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Berau dan sebagainya.

“Jadi, dia masuk bekerja dulu. Nanti belakangan dia punya dokumen (Ketenagakerjaan-red) itu, baru diurus dan dilengkapi. Kita protes keras itu, kita sudah mengirimkan surat kepada Tawakkal sama Disnaker tadi, bahwa ini tidak benar apa yang dilakukan Tawakkal,” tambahnya.

Apa yang dilakukan managemen PT GTA itu, menurut Herman, juga merupakan pelanggaran kebebasan berserikat, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Dan berdasarkan UU Nomor 21/2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh dan hukum pidana dapat dikenakan sesuai Pasal 335 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

“Kalau sampai hari Jumat tidak ada penyelesaiannya, mungkin ada langkah-langkah lain yang harus kami lakukan. Langkah hukum pastinya dan presure (tekanan-red) daripada demo atau bisa kita mogokkan karyawan disitu karena di dalam masih ada beberapa anggota kita,” bebernya.

Alasan pemecatan karyawan, jelas Herman, karena masa kontrak kerja mereka telah habis. Padahal, karyawan itu telah bekerja lebih dari 3 tahun lamanya, dan seharusnya telah menjadi pegawai tetap atau permanen.

“Kontrak itu harusnya maksimal 2 tahun atau minimal 2 kali (perpanjang). Ke-3 kali kontrak tadi sudah otomatis jadi karyawan permanen. Jadi yang dilakukan tadi, alasan saja itu masa kontraknya habis,” jelasnya.

Tak lupa juga, kata Herman, di dalam PT GTA juga sebenarnya terdapat banyak pelanggaran. Selain pelanggaran berserikat, juga ada pelanggaran pada kontrak kerja yang diberikan kepada karyawan. Dimana, setidaknya ada 3 perusahaan dengan badan usaha yang berbeda, yakni PT GTA sendiri, CV Tawakkal dan satu perusahaan lagi yang melakukan kontrak kerja dengan karyawan yang sama.

Namun, yang bertanda tangan dengan satu nama dan jabatan yang sama, yakni Suryono Yugo Pramono selaku manager HRD. Namun anehnya, meski namanya sama, bentuk tanda tangan dalam setiap kontrak justru berbeda. Dan juga, posisi tempat bertandatangan juga memiliki dua daerah yang berbeda, yakni di Berau dengan alamat Bandara Kalimarau dan di Pasuruan, Jawa Timur.

“Jadi kontraknya tadi diubah-ubah, pertama PT lalu ke CV. Sekarang diubah lagi ke CV, jadi karyawannya dipakaikan lagi baju CV. Tidak lagi pakai baju PT. Ini sudah melanggar dan saya rasa perlu dikaji ulang, kontraknya PT atau CV Tawakkal kepada bandara. Karena kalau mengenai masalah kontrak tidak mungkin berubah-ubah,” pungkasnya.

Sementara itu, upaya beraunews.com mengkonfirmasi pihak PT GTA melalui Manager HRD, Suryono Yugo Pramono yang dihubungi melalui nomor telepon 081335196xxx dengan pesan singkat maupun telepon, enggan memberikan klarifikasinya terkait permasalahan diatas. Meski, dirinya sempat membalas pesan singkat tersebut.(bnc)

Wartawan: Andi Sawega/Editor: R. Amelia