Aksesoris Sisik Penyu Juga Marak di Pasar SAD

TELUK BAYUR – Penjualan souvenir sisik penyu ternyata juga ditemukan di Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD). Dari hasil pantauan beraunews.com, ada sekitar 7 pedagang yang menjual aksesosiris dari kerapas penyu tersebut secara terang-terangan dengan memamerkan barang dagangannya di tempat mereka berjualan.

Masipah, salah seorang penjual aksesoris penyu mengatakan, dirinya sama sekali tak mengetahui jika menjual aksesoris itu dilarang. Dari pengakuanya, dirinya memperoleh aksesoris itu dari warga Pulau Derawan sejak awal bulan Januari 2016.

“Saya tidak tahu kalau menjual ini (aksesoris sisik penyu-red) dilarang. Pantasan saja sampai sekarang orang disana tidak pernah bawa kesini lagi. Saya mulai jualan di Berau sejak kedatangan saya dari Banjarmasin pada Januari tahun ini, Jadi wajar kan saya tidak tahu,” ujarnya saat berbincang dengan beraunews.com, Selasa (14/6/2016).

Para pedagang souvenir sisik penyu di Pasar SAD juga mengaku keberatan jika sewaktu-waktu ada petugas yang mau menyita barang dagangan mereka. Sebab mereka pasti mengalami kerugian besar. Misalnya saja, Masipah, ia membeli aksesoris terlarang tersebut dengan modal Rp18 Juta.

Mereka berjanji tak akan lagi menerima, jika ada yang menawarkan aksesoris seperti itu. Untuk saat ini, para pedagang berharap agar barang dagangan mereka tidak disita. Mereka ingin diberikan waktu untuk menghabiskan semuanya guna menutupi kerugian.

“Saya beli ini semua dengan modal yang cukup tinggi. Jadi saya keberatan jika sewaktu-waktu akan disita. Kalau mau razia jangan ke kami, tapi ke dermaga sana di Tanjung Batu. Kami ini semua bukan mencari, tetapi hanya menerima barang saja,” katanya.

Menurut para pedagang, aksesoris ini memang digemari para pendatang saja. Biasanya mereka membeli aksesoris ini untuk oleh-oleh, dimana untuk gelang dijual antara Rp20 ribu hingga Rp50 ribu, sedangkan cincin dihargai Rp10 ribu rupiah dan kalung Rp15 ribu.

“Aksesoris ini cukup digemari orang, semua yang beli hanya pendatang saja,” terangnya.

Sementara Rian, wisatawan asal Makassar yang berhasil ditemui beraunews.com mengaku tak mengetahui jika aksesoris dari kerapas penyu itu dilarang.

”Saya tidak tahu kalau ini dilarang. Kalau dilarang, seharusnya tidak ada lagi, saya sebagai konsumen kalau lihat ya beli untuk oleh-oleh keluarga di kampung,” tutupnya.

Sebelumnya, Dinas Kelauatan dan Perikanan (DKP) Berau secara tegas melarang pemanfaatan sisik penyu sebagai aksesoris, namun larangan tersebut hanya berlaku sesaat saja. Pasalnya, meski telah kerap kali dirazia, tak membuat para pedagang aksesoris di Pulau Derawan takut.

Untuk diketahui, pasal 40 ayat 2 Undang-undang Nomor 5/1990, secara tegas melarang pemanfaatan bagian tubuh hewan yang lindungi dan barang siapa yang melanggarnya akan diancam hukuman kurungan penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp100 Juta. Namun, tampaknya larangan itu hanya menjadi isapan jempol belaka.(ea)