Prostitusi Online Mulai Rambah Berau, Mahasiswi Juga Ada

 

TANJUNG REDEB – Meskipun sejumlah lokalisasi prostitusi yang ada di sejumlah wilayah Kabupaten Berau telah ditutup. Namun, para pekerja seks komersial sepertinya tidak kehabisan strategi dalam melakukan pekerjaannya tersebut. Ya, dengan memanfaatkan banyaknya jenis media sosial, para PSK ini tak sungkan menawarkan diri kepada calon pelanggan. Meskipun aksinya yang dilakukan terbilang nekat, tampaknya aksi tersebut tidak tercium oleh Satpol PP.

Berdasarkan penelusuran beraunews.com, kebanyakan PSK yang menawarkan diri di medsos memasang tarif bervariasi. Mulai dari Rp300 ribu untuk short time (waktu singkat), dan Rp1,5 juta untuk long time (semalaman penuh). Kebanyakan dari mereka tinggal di rumah kontrakan, dan rumah yang berkedok panti pijat dibilangan Kecamatan Tanjung Redeb.

Tidak itu saja, kebanyakan dari mereka juga ada yang bekerja secara profesional atau tanpa mucikari. Seperti yang diungkapkan Rika (bukan nama sebenarnya), bahwa menjadi PSK merupakan sebuah pilihan, karena tidak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan setelah berhenti dari salah satu perusahaan industri plywood di salah satu daerah di Kalimantan Timur. Akibat terjepit ekonomi, janda beranak satu ini pun memutuskan terjun ke dunia esek-esek.

“Ya mau bagaimana lagi dek. Sudah jalannya seperti itu, ya ikhlas saja. Apalagi saya juga punya anak yang harus dibiayai,” terangnya.

Dirinya mengaku, baru beberapa bulan ini menekuni pekerjaan sebagai PSK karena ajakan temannya. Sementara untuk sekali kencan, dirinya memasang tarif Rp300 ribu.

“Short time saja, tidak mau long time. Biasanya tamu datang ke kontrakan, atau chat lewat medsos,” ujarnya.

Sementara itu, Rani (bukan nama sebenarnya) memiliki strategi yang sedikit lebih berani. Pasalnya, ia tidak segan-segan mempromosikan dirinya melalui pesan status medsos, yang disertai nomor seluler miliknya. Bahkan, dirinya juga nekat mengirim pesan singkat ajakan kencan melalui medsos miliknya kepada orang yang belum dikenalnya.

“Aku gak milih,yang penting bisa bayar,” ujarnya.

Saat dikonfirimasi, wanita yang mengaku berdarah Sunda ini mengatakan, sudah lama menekuni pekerjaan tersebut lantaran lebih cepat mendapatkan uang. Bahkan, hampir setiap hari ada saja tamu yang datang untuk menggunakan jasanya.

“Kalau jumlah rahasia dong, tapi setiap hari tamu ada saja,” tutur wanita 24 tahun itu.

Dari penelusuran di salah satu medsos, beraunews.com menemukan salah seorang mahasiswi di perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Berau juga menyambi jadi cewek panggilan dengan menggunakan nama samaran. Saat ditanya, dirinya mengaku masih tinggal bersama keluarga, dan nyambi jadi PSK untuk tambahan biaya kuliah.

“Buat keperluan kuliah dan lain-lain,” ujarnya tanpa panjang lebar.

Untuk tarif dikatakannya Rp500 ribu untuk sekali kencan. Meskipun awalnya, dirinya pernah menawarkan diri hanya Rp300 ribu untuk sekali kencan.

“Ya dulu. Karena aku sekarang ada mami, jadi ikut kata mami saja,” ujarnya tanpa membalas pesan yang dikirimkan kepadanya lagi.(Hendra Irawan)