Sempat Ditolak, PT BC Diduga Bebaskan Lahan Melalui Pihak Lain

 

TANJUNG REDEB – Pembebasan lahan masyarakat yang dilakukan PT Berau Coal (BC) menuai kritik dan polemik. Pasalnya, PT BC diduga sengaja melakukan pembebasan lahan kepada bukan pemilik lahan sebenarnya atas lahan seluas 34 hektar yang berada di RT 19 Jalan Seramut, Kelurahan Sambaliung Kecamatan Sambaliung.

“Sempat Pak Dedi Kusnadi, Haji Tinggalan sama Daud kesini, mereka lihat surat kami dan mereka yakin itu punya kami. Sempat nawar juga,” ungkap Ketua Kelompok Tani Bahagia, Masriansyah saat ditemui beraunews.com dikediamannya, Kompleks Korpri Berau, Jalan Murjani III, baru-baru ini.

Sesuai kronologis awal, dijelaskan Masriansyah, sebelumnya PT BC yang saat itu diwakili oleh Manager Departemen Pembebasan Lahan, Dedi Kusnadi yang didampingi Tinggalan, karyawan PT BC dan salah seorang warga yang diketahui bernama Daud, telah sempat menemui dirinya sebagai perwakilan Kelompok Tani Bahagia pada bulan Maret 2015 lalu.

Dalam pertemuan itu, PT BC menawarkan pembebasan lahan dengan telah melihat bukti kepemilikan Surat Keterangan Penguasaan dan Pemilikan Bangunan/Tanaman atau biasa disebut surat garapan di atas Tanah Negara yang dimiliki oleh Kelompok Tani Bahagia. PT BC menawarkan pembebasan lahan sebesar Rp1.500 per meter, namun ditolak Kelompok Tani Bahagia.

“Kita tolak karena kita ada bocoran harga, katanya itu Rp20 ribu sampai Rp25 ribu per meter. Kalau Rp1.500 ya tidak usah, lagian kami juga belum ada niat untuk jual soalnya dari dulu kami sudah bertani disana. Itu digarap sejak tahun 1990 tapi suratnya di 2004,” ungkapnya didampingi beberapa anggota Kelompok Tani Bahagia.

Usai penolakan itu, lanjut Masriansyah, pihaknya tidak pernah lagi ditemui perwakilan PT BC. Selanjutnya, di bulan Juni 2015 lalu, terjadi transaksi pembayaran pembebasan lahan yang dilakukan PT BC melalui Kelompok Tani Keraton Sambaliung.

Namun, pembayaran itu tidak melibatkan Kelompok Tani Bahagia yang telah memiliki surat garapan. Padahal, lahan seluas 105 hektar yang dibebaskan PT BC melalui Kelompok Tani Keraton Sambliung, sebanyak 34 hektar merupakan lahan milik Kelompok Tani Bahagia.

“Kami tidak mau berurusan sama Kelompok Tani Keraton Sambaliung karena Berau Coal tahu kalau itu lahan kami. Seharusnya ketika pembebasan, mereka bisa tanya ke Kelompok Tani Keraton Sambaliung karena mereka sudah lihat surat kami dan bilang itu punya kami. Kami menggarap sejak 1990, bertanam padi disana,” tegasnya.

 

Pertemuan demi pertemuan untuk menyelesaikan persoalan sengketa lahan ini, dikatakan Masriansyah, telah digelar beberapa kali. Namun, kerap menemukan jalan buntuh. Sebab PT BC hanya ingin membuat Kelompok Tani Bahagia dengan Kelompok Tani Keraton Sambaliung tertengkar dengan mengalihkan semua persoalan kepada Kelompok Tani Keraton Sambaliung.

“Terakhir kemarin di Kantor Camat Sambaliung, Datu Amir dan Datu Dewa Asmara tetap merasa cuma jual lahannya sendiri. Kami tidak tahu mengadu kemana lagi, mungkin harus ke DPRD,” katanya.

Dikesempatan yang sama, anggota Kelompok Tani Bahagai, Slamet Riyado juga menunjukkan peta Kelompok Tani Keraton Sambaliung yang menjadi dasar pembebasan lahan seluas 105 hektar. Ia mempertanyakan dasar yang membuat PT BC berani melakukan pembebasan lahan hanya dengan berdasarkan peta yang dikeluarkan dan ditandatangani Ketua Kelompok Tani Keraton Sambaliung, Datu Amir.

Sebab sepengetahuannya, lanjut Slamet, Kelompok Tani Keraton Sambaliung pun belum memiliki Surat Keterangan Penguasaan dan Pemilikan Bangunan/Tanaman di atas Tanah Negara yang dibebaskan tersebut. Surat garapan yang paling lama, dinilai Slamet, itu hanya milik Masriansyah. Pasalnya, Masriansyah menggarap lahan tersebut memang sejak lama dan dibuktikan dengan adanya tanaman buah-buahan dan rumah atau pondok kebun.

“Ini ada peta yang dikeluarkan Pak Datu Amir, disini ada Kelompok Tani Bahagia. Ini sudah dijual oleh Pak Datu Amir, sedangkan keterangan disini Pak Datu Amir itu tanahnya 59 hektar aja. Kami Kelompok Tani Bahagia semuanya 34 hektar, tanpa sepengetahuan kami, tanah ini sudah dijual dengan mengeluarkan peta palsu,” ujarnya.

Sementara itu, Public Relations Manager PT BCl, Arif Hadianto membantah PT BC sengaja melakukan pembebasan lahan di atas lahan yang diketahui pihaknya memang merupakan milik Kelompok Tani Bahagia, bukan Kelompok Tani Keraton Sambaliung.

“Mengenai klaimnya Kelompok Tani Bahagia, itu akan dikaji lebih mendalam,” ujarnya saat dikonfirmasi beraunews.com, Sabtu (4/11/2016) kemarin.

Penyelesaian sengketa lahan itu, ditambah Arif, juga telah dilakukan Muspika Kecamatan Sambaliung dengan memfasilitasi pertemuan antara PT BC dengan Kelompok Tani Keraton Sambaliung dan Kelompok Tani Bahagia.

“Dan memang yang diklaim itu berada di dalam lokasi lahan yang telah dibebaskan melalui kelompok taninya Pak Datu Amir,” tambahnya.

 

Hasil pertemuan itu, dijelaskan Arif, penyelesaian permasalahan sengketa lahan yang ada menjadi tanggung jawab Kelompok Tani Keraton Sambaliung. Mengingat, hal itu juga tertuang dalam surat perjanjian jual beli antara PT BC dengan Kelompok Tani Keraton Sambaliung.

“Karena di dalam surat perjanjian pembebasan lahan itukan disebutkan jika dikemudian hari ada sengketa atau klaim, pihak yang dibebaskan itu yang akan bertanggungjawab. Ya kami menunggu dulu, proses itu selesai,” jelasnya.

Untuk itu, meski Kelompok Tani Bahagia tetap meyakini permasalahan sengketa ini akibat PT BC yang diduga sengaja melakukan pembebasan lahan kepada bukan pemilik sebenarnya, ditegaskan Arif, hal itu tetap menjadi tanggung jawab Kelompok Tani Keraton Sambaliung.

“Kalau berkaitan dengan itu, setahu kami adalah di dalam proses pembebasan lahan, lahan yang diklaim itu adalah lahan yang sudah dibebaskan melalui kelompok tani Pak Datu Amir. Jadi bagaimana pun sesuai dengan perjanjian yang saya sebutkan tadi. Ya kalau muncul sengketa, pihak yang membebaskan ini yang bertanggungjawab,” tegasnya.

Terkait apakah sebelumnya PT BC melalui Manager Departemen Pembebasan Lahan yang dipimpin Dedi Kusnadi sempat melakukan negoisasi harga untuk pembebasan lahan kepada Kelompok Tani Bahagia, Arif belum dapat mengkonfirmasi kebenaran akan hal itu kepada yang bersangkutan.

“Saya tidak tahu karena saya memang belum konfirmasi ke Pak Dedi Kusnadi. Tapi, informasi yang saya ketahui, yang tadi itu,” pungkasnya.(Andi Sawega)