Presiden Minta Daerah Kendalikan Inflasi, Berau Masih Aman

TANJUNG REDEB – Presiden Joko Widodo meminta para Gubernur, Bupati dan Walikota untuk betul-betul memperhatikan angka inflasi. Untuk itu, Presiden meminta kepada para Gubernur, Bupati dan Walikota yang belum memiliki Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) segera membentuk.

“Kalau bisa ada anggaran untuk pengendalian harga. Sehingga begitu bergejolak langsung bisa dilakukan intervensi,” tutur Presiden saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) VII TPID Tahun 2016 di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Senin (4/8/2016) lalu.

Lalu bagaimana dengan Kabupaten Berau? Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo saat ditemui beraunews.com, Kamis (11/8/2016) mengatakan, angka inflasi Kabupaten Berau yang masih mengacu perhitungan inflasi Provinsi Kaltim, secara umum di bawah rata-rata nasional, yakni 4,17 persen.

“Inflasi kita masih relatif sesuai harapan yakni 4,17 persen, masih di bawah rata-rata nasional,” ungkapnya.

Inflasi yang tergolong ringan ini, dikatakan Wabup, menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkab untuk terus mempertahankannya. Bahkan, akan terus berusaha untuk menurunkan angka inflasi tersebut. Namun, perhitungan inflasi Kaltim saat ini masih mengacu pada tiga titik, yakni Samarinda, Balikpapan dan Tarakan sehingga Berau hanya mengikut saja.

Berdasarkan perhitungan inflasi Kaltim, dijelaskan Wabup, ada tiga komoditas yang patut diperhitungkan apabila mengalami kenaikan harga, yakni cabe, bawang merah dan ayam potong. Ketiga komoditas ini bisa mempengaruhi angka inflasi sebab disuplai dari luar Kaltim seperti Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi.

“Ada beberapa hal yang kita antisipasi, yang bisa membuat inflasi naik di Berau,” ujarnya.

Menanggapi antisipasi yang diharapkan Wabup tersebut, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Berau, Ilyas Natsir pun telah melakukan beberapa program ketahanan pangan, yakni dengan membudidayakan beberapa komoditas pertanian yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Berau. Misalnya, budidaya bawang merah, yang selama ini selalu disuplai dari Pulau Sulawesi sembari tetap menjamin kelancaran suplainya untuk saat ini.

“Yang bisa kita lakukan ialah menjamin suplai itu lancar. Tapi pertanian di Berau juga sudah mengusahakan program budidaya sehingga ke depan, kita tidak tergantung lagi dari suplai luar,” ucapnya.

Salah satu daerah yang dipilih untuk menjadi sentra budidaya bawang merah, ditambahkan Ilyas, yakni Kecamatan Gunung Tabur dan Talisayan. Sementara untuk cabai, secara umum petani di Berau telah banyak yang menanamnya, namun terkadang terkendala dengan adanya serangan hama.

Terkait menjaga kestabilan harga jual ayam potong, Ilyas mengatakan, pihaknya akan berusaha mendatangkan investasi baru di Berau dalam hal penetasan bibit ayam yang biasa disebut Day Old Chicken (DOC) guna mengurai munculnya resiko mati, lama di jalan, terkena penyakit dan sebagainya yang biasa dihitung oleh para pedagang. Akibatnya, harga jual pun akan tinggi.

“Oleh sebab itu, ke depan bagaimana caranya kita mendorong ada investasi penetasan, sehingga tidak ada lagi resiko mati di jalan, apa dan sebagainya. Itu salah satu langkah yang akan kita lakukan guna menekan inflasi dan pengendalian harga,” tutupnya.(sai)