Mau Pasang Listrik atau Tambah Daya, Wajib Tahu Biaya Ini

 

TANJUNG REDEB – Setiap pemasangan baru instalasi listrik yang diajukan masyarakat selaku pelanggan PLN, wajib mengantongi Sertifikat Laik Operasi (SLO) dari lembaga yang ditugaskan pemerintah untuk memeriksa dan menguji instalasi tenaga listrik tegangan rendah, dalam hal ini Lembaga Inspeksi Teknik (LIT). Begitu pun jika pelanggan ingin melakukan penambahan daya.

Hal itu ditegaskan Sekretaris Dewan Pengurus Cabang Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (DPC AKLI) Berau, Herwin saat dikonfirmasi beraunews.com, Selasa (21/11/2017). Dikatakannya, pengurusan SLO dilakukan melalui LIT, dalam hal ini bisa melalui Komite Nasional Keselamatan Untuk Instalasi Listrik (Konsuil), PT Perintis Perlindungan Instalasi Listrik Nasional (PPILN) maupun PT Jasa Sertifikasi Indonesia (Jaserindo).

“Kalau di Berau, LIT itu baru ada PT PPILN dan PT Jaserindo, konsuil belum masuk. LIT inilah yang akan melakukan pemeriksaan ke rumah pelanggan dan menerbitkan hasil pemeriksaan yang disebut SLO. Namun, perlu dipahami, LIT hanya menyatakan kelayakan, bukan menjamin. Operasi tetap menjadi tanggung jawab Badan Usaha Jasa Konstruksi (BUJK), selaku pelaksana lapangan,” ujarnya.

“Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah instalasi sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam arti material yang digunakan harus ber-SNI. Kedua, pemasangan sesuai standar PUIL (Persyaratan Umum Instalasi Listrik),” tambahnya.

BACA JUGA : Pelanggan Baru dan Tambah Daya PLN, Wajib Urus SLO

Untuk mendapatkan SLO, kata Herwin, syarat yang diperlukan harus ada Gambar Instalasi Listrik (GIL) yang dikeluarkan BUJK melalui Biro Teknik Listrik (BTL) yang sudah terdaftar di Dirjen Ketenagalistrikan. Untuk diketahui, lanjut Herwin, BTL di Berau ini, tergabung dalam 3 organisasi kelistrikan, yakni AKLI, Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesia (AKLIN), dan Asosiasi Kontraktor Kelistrikan Indonesia (AKKLINDO).

"Jika syarat komplit, maka LIT akan memeriksa instalasi listrik milik pelanggan untuk kemudian diterbitkanlah SLO maksimal selesai 3 hari dari permohonan awal yang diajukan pelanggan ke LIT. Selanjutnya, pelanggan melampirkan SLO ini kepada PLN untuk kemudian bisa diproses pemasangan baru dan atau tambah daya listrik," tuturnya.

“Ada juga pelanggan yang tidak datang sendiri ke LIT dengan membawa GIL-nya. Melainkan sudah sepakat dengan BTL memasang instalasi listrik sampai mendapatkan SLO, berarti BTL-nya yang mendaftarkan ke LIT,” tambahnya.

Terkait tarif untuk bisa mendapatkan GIL dari BTL atau kontraktor listrik, Herwin mengatakan, masing-masing BTL memiliki tarif sendiri-sendiri dan tidak ada angka baku alias tidak ada ketetapan tarif, yang ada hanyalah acuan tarif.

 

Makanya, tutur Herwin, untuk setiap daerah di Indonesia, tarif GIL itu bervariasi. Berbeda dengan LIT yang dalam menerbitkan SLO, tarifnya telah diatur melalui Surat Direktur Jendral Ketegalistrikan Nomor 1433/25/DJL.4/2016 (tarif SLO lihat grafis).

“Jika kita berbicara PLN Area Berau, itu berarti meliputi Berau, Bulungan, Malinau dan Nunukan. Dan, tarif GIL di Berau ini yang paling murah. Yang jelas tarif GIL jika melalui AKLI sudah ada acuan tarifnya (lihat grafis),” katanya.

 

Lalu mengapa GIL yang menjadi syarat terbitnya SLO, tarifnya jauh lebih mahal ketimbang tarif SLO, Herwin mengatakan, terkait hal itu, AKLI sudah pernah bersidang di Kantor Perwakilan Daerah (KPD) Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Balikpapan. Saat itu, KPPU memenangkan AKLI.

“Dalam sidang kami sampaikan, terkait tarif GIL memang tidak ada patokan harga, sebab dunia usaha dilarang bersepakat. Jikapun ada tarif, itu hanya sebagai acuan semata, artinya berlaku tarif negosiasi,” tandasnya.

BACA JUGA : PLN Beri Diskon Besar-Besaran Tambah Daya Hingga 31 Desember 2017

Namun demikian, untuk pasang baru maupun tambah daya, tak hanya biaya SLO dan GIL yang menjadi pengeluaran pelanggan, melainkan ada juga biaya pemasangan maupun biaya tambah daya itu sendiri.(bnc)