Direkrut Dari Kampung Halaman, Bertahun-tahun Kerja Hanya Berstatus PHL

 

TALISAYAN – Dari sekian banyak buruh yang berdemo di halaman kantor manajemen PT Tanjung Buyu Perkasa (TBP) Plantation di Kecamatan Talisayan, tak sedikit terlihat pekerja dari kalangan wanita yang rata-rata usianya antara 30 hingga 35 tahun.

Mereka rela meninggalkan anak mereka di rumah demi mendapat keadilan dari PT TBP. Padahal, dari sejumlah informasi yang dihimpun beraunews.com ini, tak sedikit buruh yang berdemo tersebut, merupakan tenaga kerja yang direkrut langsung oleh pihak perusahaan di kampung halaman mereka.

Seperti yang disampaikan Maria (40), salah seorang buruh PHL (pekerja harian lepas) PT TBP,. Ibu rumah tangga ini mengatakan, 6 tahun lalu dirinya direkrut langsung oleh pihak perusahaan dari kampung halamannya di Flores, Nusa Tenggara Timur, untuk dipekerjakan.

“Kenapa kami mau, karena waktu itu mereka bilang (pihak perusahan), kami akan diberikan hak yang layak,” ujarnya.

BACA JUGA : PT TBP Kembali di Demo, Buruh Sempat Bikin Portal “Hidup”

Akan tetapi lanjutnya, sekarang hal yang dijanjikan tidak terbukti. Jangankan mendapatkan hak tenaga kerja, sudah kurang lebih 6 tahun dirinya bekerja di PT TBP, status PHL, masih tidak berubah.

“Hanya suami saya saja yang diangkat SKHU. Sementara saya, masih berstatus PHL. Belum lagi, jumlah harian kerjanya dalam satu bulan yang tidak jelas. Bagaimana mau mencukupi hidup selama sebulan,” bebernya

Sementara itu, salah seorang buruh perempuan yang namanya enggan disebutkan, membenarkan apa yang disampaikan koleganya. Dikatakannya, cukup banyak buruh yang memang sengaja didatangkan dari luar daerah, khususnya dari Flores.

“Ia memang banyak. Cuma setelah sampai di sini, tidak sesuai dengan harapan,” katanya.

Sementara, Ketua DPC SBSI 1992 Berau, Muhidin Dosi mengatakan, apa yang dikatakan buruh yang masuk dalam naungannya, memang benar. Menurutnya, buruh tersebut hanya menuntut haknya kepada perusahaan sesuai dengan hak tenaga kerja pada umumnya.

“Jika perusahaan bersikap adil dan memberikan hak mereka secara proporsional, mereka tidak akan mengeluh. Apalagi, pekerjaan mereka di lapangan terlalu berat untuk ukuran perempuan yang sudah berumur,” jelasnya.

Sementara itu, Head of Agr. Area PT TBP, Tulus SGL Tobing dihadapan parah buruh mengatakan, pihaknya hanya bisa meneruskan keluhan dari para buruh ke manajemen pusat. Sebab diakuinya, pihaknya yang berada di kantor manejemen TBP di Talisayan tidak memiliki kewenangan penuh terhadap keluhan para karyawan.

“Kita tetap berupaya menjembatani tuntutan itu ke manajemen pusat. Hanya, kita tidak bisa memastikan apakah hal itu dapat terealisasi dalam waktu dekat atau tidak,” tandasnya.(Hendra Irawan/bnc)