Penduduk Miskin di Berau Meningkat, Ini Standarnya

 

TANJUNG REDEB – Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam meminta agar pemerintah memainkan politik anggaran yang lebih agresif untuk mengejar target penurunan angka kemiskinan. Pernyataan itu disampaikan Ecky setelah melihat realisasi angka kemiskinan masih jauh dari target pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

“Melihat masih tingginya angka kemiskinan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memaksimalkan peranan belanja sosial dan membuka akses-akses ekonomi untuk keluarga miskin secara lebih masif. Selain itu penting juga untuk menjaga daya beli, ini membutuhkan politik anggaran yang afirmatif kepada masyarakat kecil. Jangan sampai ambisi untuk mengejar pembangunan infrastruktur mengorbankan anggaran di pos-pos tersebut,” ujar Ecky.

Lalu bagaimanakah angka kemiskinan di Kabupaten Berau, apakah angka kemiskinan masih tinggi? Menjawab itu, Kepala BPS Berau, Hotbel Purba melalui Kasi Statistik Sosial Berau, Mambaus Sa’adah mengatakan, tingkat kemiskinan di Kabupaten Berau terus mengalami peningkatan sejak 2014 lalu. Tercatat, jumlah penduduk miskin di Berau pada tahun 2014 sebanyak 9.770 jiwa atau sebesar 4,76 persen, tahun 2015 sebanyak 11.210 jiwa atau sebesar 5,33 persen dan tahun 2016 sebanyak 11.470 jiwa atau sebesar 5,37 persen.

“Peningkatan angka kemiskinan tidak hanya terjadi di Berau saja, melainkan di seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Timur, bahkan secara nasional. Berau sendiri berada diurutan keempat yang tingkat kemiskinannya terendah se-Kalimantan Timur setelah Balikpapan, Samarinda dan Bontang,” ujarnya kepada beraunews.com, Rabu (01/11/2017).

Sa’adah menambahkan, kemiskinan merupakan ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk mengakses kebutuhan dasar berupa makanan dan non makanan. Terkait kemiskinan, tolak ukur yang digunakan adalah garis kemiskinan, yakni hasil penjumlahan garis kemiskinan makanan dan non makanan.

“Penduduk dikatagorikan miskin itu, jika pengeluaran rumah tangganya di bawah garis kemiskinan. Untuk Berau, pada tahun 2016, garis kemiskinannya sebesar Rp465.161 per kapita per bulan atau sekita Rp15.500 per kapita per hari. Misalnya, di dalam rumah tangga ada 6 orang, maka pengeluaran di rumah tersebut Rp93.000 per hari. Jika di bawah Rp93.000, maka rumah tangga tersebut dikatagorikan miskin,” bebernya.

Garis kemiskinan Berau, dikatakan Sa’adah, dibandingkan kabupaten/kota lain di Kaltim, masih jauh lebih rendah.

“Di berau persentasenya berkisar 4,76 persen hingga 5,37 persen. Angka kemiskinan ini bisa jadi adalah kemiskinan yang sifatnya fundamental, artinya meski diberi bantuan, mereka tetap saja miskin,” katanya.

Sementara menurut Sa’adah, Indeks Kedalaman Kemiskinan tahun 2016 sebesar 0,97 dan Indeks Keparahan Kemiskinan sebesar 0,23.

“BPS hanya melakukan pemotretan dan mendata di lapangan, tinggal dari peran Pemerintah Daerah, Aparat Kampung dan masyarakat bekerjasama dalam mengurangi tingkat kemiskinan tersebut, melalui program-program yang sudah dibuat untuk kampung-kampung. Tinggal dikontrol saja, apakah dari pihak kampung dapat mengelola dana tersebut supaya masyarakatnya dapat lebih maju dan sejahtera,” tandasnya.(Miko Gusri Nanda/bnc)