Tarif Angkutan Turun, Harga Barang Harus Ikut Turun

 

TANJUNG REDEB – Pelayaran Tempuran Emas (Temas) bersedia menurunkan tarif peti kemas angkutan barang dari Rp11 juta menjadi Rp8,5 juta. Hal tersebut disampaikan Operation General Manager PT Temas Jakarta, Japie Ernest Tasijam dan Head Liner PT Temas Surabaya, Natalia Siagian dalam rapat tarif angkutan pelabuhan dan tarif bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Redeb, Senin (25/09/2017) pagi tadi.

Dikatakan Japie, pihaknya mau tak mau harus menaikkan tarif, lantaran semakin membengkaknya biaya operasional. Selain itu, saat ini posisinya, antara pendapatan dan biaya angkut dari Surabaya ke Berau, adalah seimbang. Apalagi, dikatakan Japie, di Pelabuhan Tanjung Redeb ini unik, lantaran biaya pelabuhan sebenarnya, hanya ada 3 komponen, yakni aktivitas bongkar muat dari kapal ke dermaga (stevedoring), dari dermaga menuju ke depo (cargodoring), dan dari depo menuju gudang atau toko pemilik barang (delivery).
 
“Tapi disini banyak sekali komponen biayanya lainnya. Berbeda dengan saat awal kami masuk, kini sudah ada biaya yang masuk di cargodoring sebesar Rp234.000 dan biaya shifting (pemindahan) di depo sebesar Rp125.000. Namun demikian, sebagai anggota INSA (Indonesia National Shipowners' Association atau Asosiasi Pemilik Kapal Nasional Indonesia-red), maka ketika INSA meminta tarifnya diturunkan, mungkin angka yang tepat itu Rp7 juta sampai Rp8,5 juta,” bebernya.

 

Meski demikian, Japie juga mempertanyakan, apakah ketika pihaknya menurunkan tarif, apakah akan dibarengi dengan penurunan harga barang. Sebab pihaknya, mengkhawatirkan jika penurunan tarif ini tak dinikmati masyarakat banyak.
 
“Kami bisa saja menurunkan tarif sampai batas titik equilibrium (batas keseimbangan), tapi bagaimana dengan harga barang, apakah bisa turun. Jangan sampai penurunan tarif ini hanya dinikmati segelintir pihak,” harapnya.
 
BACA JUGA : Rakyat Keluhkan Tarif Mahal, Pemerintah Wajib Masuk
 
Sementara itu, PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL), hingga berakhirnya rapat belum memutuskan apakah menurunkan tarif atau tidak. Pasalnya, menurut Branch Manager PT SPIL Cabang Berau, Inka jika pihaknya mengira jika pembahasan tarif kali ini guna membahas rincian komponen tarif, bukan pada pengambilan keputusan turun atau tidaknya tarif.
 
“Kemarin kami ambil kesimpulan, jika hari ini masih pembahasan rincian komponen tarif, sedangkan kantor pusat kami di Surabaya baru didatangkan hari Kamis mendatang,” ujarnya singkat.
 
Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo yang memimpin rapat mengatakan, tujuan akhir dari rapat ini adalah turunnya harga jual barang di masyarakat. Artinya, kalau tarif angkutan barang sudah turun, tapi harga jual dari toko ke masyarakat tidak turun, maka target belum tercapai atau sama saja kita semua yang hadir dalam rapat ini, bekerja untuk agen barang.

 

“Jadi saya sampaikan kebetulan agennya juga hadir (perwakilan agen yang hadir, Andy Wiliyanto alias Atay, Agen Barang PT Sinar Mas-red), setelah tarif turun, maka kita bersama Kadin dan Disperindagkop akan melakukan sidak. Nah, yang mengeluhkan tarif mahal awalnya kan pihak agen, maka sekarang kita tantang mereka, kalau misalnya kita bisa menurunkan tarif, bisakah agen menurunkan harga jual barang. Kalau tidak, buat apa kita hanya menambah keuntungnya agen,” tegasnya.
 
Terkait PT SPIL, Agus meminta agar PT SPIL Surabaya dapat dihadirkan pada kamis (28/09/2017) mendatang.
 
“Hari Kamis tolong dihadirkan PT SPIL Surabaya, agar keputusan bisa diambil,” tutupnya.(*/bnc)
 
Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: Rita Amelia