Antisipasi Daerah Rawan Pangan

 

TANJUNG REDEB- Kebutuhan masyarakat terhadap bahan pokok, terutama beras, diakui Dinas Pangan Berau, saat ini dapat terpenuhi hingga 85 persen dengan produksi beras lokal.

Meski begitu, sebagai langkah antisipasi kekosongan bahan pokok di beberapa daerah yang dinilai rawan, Dinas Pangan Berau, akan menyuplai bahan pokok melalui lembaga seperti koperasi di beberapa daerah rawan pangan tersebut.

Adapun daerah rawan pangan yang menjadi titik perhatian seperti Pulau Derawan dan Pulau Maratua. Sebab daerah-daerah tersebut, dikatakan Kepala Dinas Pangan, Fattah Hidayat, merupakan daerah yang termasuk cukup sulit untuk mendapatkan bahan pokok akibat minimnya lahan untuk bertani serta musim kemarau dan gelombang yang kerap melanda daerah pesisir.

"Jadi kita ada yang namanya daerah rawan pangan, yaitu daerah yang agak sulit untuk mendapatkan bahan pokok jika suatu kondisi terjadi. Daerah tersebut kita sebut juga zona merah. Untuk memastikan stok bahan pangan terus tersuplai, maka di zona itu ada lembaga yang mengelola dan menyetok bahan pokok supaya tidak terjadi krisis di sana," jelasnya kepada beraunews.com, Rabu (02/08/2017).

Selain itu, untuk daerah yang masih bisa memproduksi bahan pokok berupa beras namun masuk ke dalam daerah rawan pangan, seperti di Kecamatan Talisayan dan Biduk-Biduk, juga dibangun lumbung padi sebagai wadah persediaan menghadapi musim paceklik.

"Jadi di dalam lumbung itu kita stok terus dalam bentuk gabah. Kalau terjadi krisis maka bisa digunakan. Tapi kalau masih bisa mendatangkan, akan didatangkan dulu dengan catatan tetap memiliki simpanan di dalam lumbung. Kalau sudah benar-benar tidak bisa, baru digunakan. Apalagi gabah ini bisa tahan kurang lebih satu tahun," pungkasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia