Garam Langka, Bukan Hoax

 

TANJUNG REDEB – Kelangkaan garam dapur yang menjadi isu nasional ternyata bukan hoax (berita bohong-red). Pasalnya, kelangkaan garam itupun juga dirasakan di Kabupaten Berau. Bahkan, sudah terjadi selepas lebaran lalu.

Pantauan beraunews.com di pasar Sanggam Adji Dilayas, Senin (31/07/2017), harga garam di pasaran sudah naik drastis, hingga 200 persen.

Suci Wati, salah satu pedagang sembako, mengeluh susahnya mendapatkan garam di pasaran, bahkan sempat beberapa minggu kehabisan persediaan garam untuk dijual.

“Sekarang Rp38 ribu baru bisa dapat dari distributor, artinya untuk mengembalikan modal, mesti dijual Rp3 ribu kalau diecer. Tapi sebelum harga sekarang, dijual kembali dengan harga seribu rupiah sudah bisa balik modal,” ungkapnya.

Bukan hanya Suci, hal senada juga diungkapkan Yuli, pedagang lainnya. Dikatakannya, untuk bisa mendapatkan satu pack garam, saat ini, agak susah, tidak seperti beberapa bulan lalu dan harga juga naik terkait akibat imbas kelangkaan garam itu.

“Ada sih ini garamnya, namun tidak bisa nyetok terlalu banyak kerena mahal, takut rugi nanti kalau misalkan persediaan sudah stabil. Hari ini saja cuma bisa beli satu pack,” tuturnya.

Udin, pedagang sembako yang juga merasakan naiknya harga si asin ini, akhirnya terpaksa harus berhenti menyetok garam dikarenakan masih ada stok lama yang belum habis.

“Stok lama masih banyak, jadi dijual dulu yang masih ada, tapi menurut pengamatan saya memang ada kenaikan harga yang mengharuskan penjual juga melambungkan harga jualnya,” tutupnya.(bnc)

Wartawan: Rama Sihotang/Editor: Rita Amelia