Beras Lokal vs Beras Non Lokal, Petani Jangan Pesimis

 

TANJUNG REDEB – Kerap dianggap tidak mampu bersaing dengan beras dari luar daerah, nyatanya beras lokal masih menjadi pilihan untuk dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Berau. Bahkan, menurut data dari Dinas Pangan Berau, beras lokal mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 85 persen setiap tahunnya.

Meski dianggap kalah saing dengan beras impor, namun Kepala Bidang Ketersediaan Distribusi dan Konsumsi Pangan (KDKP) Dinas Pangan Berau, Edi Muspa, mengakui keunggulan beras lokal yang dihasilkan petani Berau, baik beras sawah maupun beras gunungnya.

“Memang rata-rata banyak yang bilang beras lokal Berau ini kalah saing dengan beras impor dari luar daerah. Mungkin itu benar kalau dilihat dari segi kualitas panen,” ujarnya kepada beraunews.com, Jumat (28/07/2017).

Hal tersebut, dikatakannya merupakan faktor dari kondisi alam dan minimnya Sumber Daya Manusia (SDM), dalam hal tersebut ialah para petani.

“Kalau beras lokal ditahan sampai dua minggu bisa rusak, kalau yang dari luar ditahan lebih dari dua minggu masih tetap bagus. Tapi kalau dari segi harga, beras lokal lebih murah, antara Rp9 ribu hingga Rp11 ribu per kilogram. Sementara beras luar harganya bisa sampai Rp13 ribu per kilogram,” jelasnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan, Fattah Hidayat mengatakan, beras lokal juga merupakan beras yang masih sangat alami, sebab para petani tidak menggunakan pengawet dalam memproduksi berasnya. Hal itu dilihat dari ketahanan beras yang tidak lebih lama dari beras impor. Untuk itu ia pun mengimbau kepada seluruh petani beras lokal untuk terus memproduksi beras lokal dan tidak pesimis untuk bersaing dengan petani beras di luar daerah.

“Jangan pesimis dan menganggap produksi beras lokal tidak dibutuhkan. Sebab saat ini beras lokal pun masih sangat dicari konsumen. Apalagi tidak menggunakan pengawet sedikitpun, jadi dari petani langsung digiling dan dipasarkan,” tandasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: Rita Amelia