Kualitas Beras Bulog Jelek, Bisa Dilaporkan dan Ditukarkan

 

TELUK BAYUR – Dengan banyaknya pendapat, maupun kabar yang beredar di media sosial facebook, tentang menurunnya kualitas beras Bulog, ditanggapi oleh Kepala Kantor Bulog Berau Seksi Logistik, Mardi Harianto.

“Jadi kami dari Bulog sendiri menanggapinya dengan baik, oleh karena itu kami sudah mengambil langkah yaitu dengan konfirmasi melalui pengurus di setiap kampung ataupun para pelaksana di kampung. Dalam artian, jika menemukan beras Bulog yang kurang layak, bisa langsung segera hubungi kami, dan pasti segera kami tindaklanjuti dan sesegera mungkin kami ganti,” ungkapnya kepada beraunews.com, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (06/06/2017).

Ditambahkan Mardi, para pelaksana kampung telah menerima klarifikasi oleh pihak Bulog, dan telah menyampaikan kepada pengurus Bulog di setiap kampung untuk memisahkan jika saja terdapat beras yang memang kurang layak.

“Kami juga sudah berpesan untuk setiap para pengurus kampung untuk tetap memeriksa, tidak lain dan tidak bukan juga untuk meminimalisir statement warga mengenai beras Bulog itu sendiri. Intinya, kami dari pihak Bulog tidak ada niatan sedikit pun untuk membagikan beras yang yang tidak layak konsumsi untuk masyarakat,” tambahnya.

 

Sementara itu, faktor penyebab beras terkadang berwarna kecoklatan ataupun berdebu, diakibatkan karena lamanya proses pengiriman, karena memang beras Bulog sendiri pengadaan atau pengolahannya berada di Sulawesi Selatan lalu dikirim ke Balikpapan, disimpan beberapa bulan, barulah kemudian didistribusikan ke Berau.

“Jika berbicara masalah penyebab, itulah penyebab beras Bulog tersebut terkadang berwarna pudar, yakni karena lamanya penyimpanan serta lamanya pengiriman,” bebernya.

Mardi juga berpendapat, jika saja beras yang diserap adalah beras dari Berau sendiri, tentu hasilnya bisa lebih fresh.

“Kalau saja kami bisa menyerap beras dari hasil petani Berau, tentu kami sangat senang, karena tidak perlu lagi lama-lama disimpan, bisa langsung disalurkan, yang menjadi kendalanya sekarang hanyalah banyak para petani yang tidak mau menjual berasnya ke kami,” tutupnya.

Kesimpulannya adalah, jika barang yang layak dikonsumsi, jika disimpan terlalu lama pasti mengalami penurunan kualitas, tetapi jika kembali berbicara masalah kelayakan pun barang tersebut masih layak untuk dikonsumsi.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia