Awas!!! Pasaran Lesu, Petani Mulai Beralih Profesi

BATU PUTIH – Kurangnya pasaran kedelai menjadi masalah klasik yang terus terulang menimpa petani kedelai di Kampung Kayu Indah Kecamatan Batu Putih. Akibatnya, petani menjadi kurang semangat. Padahal, mayoritas warga disana selama ini bergantung dari sektor pertanian.
 
"Kayu Indah ini potensial untuk pertanian kedelai," ujar Sekretaris Kampung Kayu Indah, Wahyunianta saat berbincang dengan beraunews.com, Jum’at (24/6/2016).

Dikatakannya, selain kurangnya pemasaran, rendahnya harga jual kedelai juga menjadi masalah tersendiri dan kerap dikeluhan para petani. Pasalnya, harga pasaran saat ini dianggap tak sebanding dengan pengeluaran petani.

"Hampir imbang antara keuntungan dengan pengeluaran. Sementara kedelai ini cukup repot perawatannya, dan harus kerja cepat. Saat panen harga yang didapat petani rendah, belum lagi ketika tengkulak permainkan harga. Saat ini petani hanya menjual kedelai pada tengkulak dikisaran harga Rp6.000 hingga Rp7.000 per kg," jelasnya.

Tak jarang petani yang semula ulet mengembangkan tanaman kedelai, kini beralih ke sektor lain seperti sawit. Hal itu terjadi sebagai akibat lesunya pasaran dan rendahnya harga.

"Kalau pasaran bagus petani pasti semangat," ujarnya.

Sebenarnya masalah tersebut sudah lama dirasakan petani di kayu Indah. Hanya saja, sampai saat ini belum ada solusi dari pemerintah terkait keluhan petani. Padahal pemerintah telah mewacanakan swamsembada pangan serta berupaya menggenjot hasil produksi pertanian agar semakin meningkat. Sementara yang terjadi dilapangan pasaran untuk menjual hasil panen petani tidak jelas. Kendati demikian, pihaknya berharap keluhan petani dikampungnya dapat direspon pemerintah.

"Sebenarnya ini masalah klasik yang selalu dialami petani, dan tidak hanya di Kayu Indah saja. Kita harap pemerintah dapat mencarikan solusi," tutupnya.(hir)