Direct Call Tekan Cost Production

TANJUNG REDEB – Upaya PT Pelindo IV untuk menurunkan harga barang, dibuktikan dengan diberlakukannya sistem direct call atau pelayaran langsung. Saat ini direct call sudah mulai diberlakukan di wilayah Sulawesi Selatan dan Papua, menyusul Kalimantan Timur  juga diharapakan dapat menjalankan direct call sesegera mungkin.

Diungkapkan oleh Direktur Utama PT Pelindo IV, Doso Agung, langkah ini merupakan upaya untuk mengurangi tingginya biaya logistik kegiatan ekspor dan impor yang menggunakan peti kemas. Seperti yang saat ini terjadi di Sulawesi Selatan, sejak diberlakukannya direct call rata-rata per minggu sekitar 350 kontainer dari Makassar yang keluar ke Cina, Jepang, Korea, Filipina dan Hongkong.

“Jadi sekarang begini, untuk ke Makassar-Jepang satu minggu sekali itu 10 kapal. Orang pikirannya hanya satu kapal, padahal lebih dari itu. Artinya biayanya itu bisa sampai jutaan US dolar. Nah, saat ini dengan adanya direct call perkembangan kontainer ekspor bisa mencapai 200 dan impor mencapai 150 setiap minggunya, biaya biasa turun sampai 70 persen,” ungkapnya kepada beraunew.com.

Ia juga memastikan, 13 provinsi wilayah kerja PT Pelindo IV di Indonesia Timur akan mendapat kesempatan yang sama dengan daerah-daerah yang telah memberlakukan sistem direct call agar harga barang yang beredar lebih rendah.

“Semua pasti akan mendapatkan kesempatan yang sama. Semua bisa menikmati harga barang yang lebih rendah dengan adanya direct call, begitu juga untuk para ekspotir akan mendapat kesempatan yang sama seperti pengusaha di Indonesia Barat,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, saat ini seluruh pelabuhan di Indonesia Timur tidak ada yang berstatus pelabuhan internasional, padahal fasilitas yang dimiliki oleh pelabuhan-pelabuhan tersebut setara dengan pelabuhan internasional seperti yang ada di Tanjung Priok dan Surabaya.

“Tidak ada pelabuhan di bagian Indonesia Timur yang statusnya internasional, sementara fasilitasnya sama saja seperti di Tanjung Priok dan Surabaya. Kenapa bisa seperti ini? Ya, karena tidak ada kargo ekpor maupun impor secara langsung, yang ada ekspor impornya lewat Surabaya baru dibawa ke Makassar. Sehingga yang terjadi adalah harga menjadi lebih mahal bahkan 4 kali lipat, karena dari Makassar ke Surabaya harus turun kontainer, sekali turun 70 dolar. Kapal berikutnya ke Jakarta, lalu naik lagi. Karena kapal ini kan seperti angkot juga ada rute khususnya. Kemudian kualitas barang juga bisa menurun karena bisa hampir 5-6 kali naik turun,” tandasnya.(mta)