Lapangan Penumpukan Gurimbang, Upaya Pelindo Wujudkan Direct Call dan Pengendalian Harga

TANJUNG REDEB – Rencana PT Pelindo IV (Persero) Cabang Tanjung Redeb membangun lapangan penumpukan sementara di Kampung Gurimbang, Kecamatan Sambaliung, merupakan salah satu upaya untuk mendukung pengendalian harga dan terealisasinya sistem ekspor dan impor langsung atau Direct Call di Kalimantan Timur.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Direktur Utama PT Pelindo IV, Doso Agung, saat ditemui beraunews.com dalam acara buka puasa bersama sekaligus pisah sambut General Manager (GM) PT Pelindo IV (Persero) Cabang Tanjung Redeb dari Captain Syarifudin Hamma kepada Hardin Hasjim, Selasa (21/6/2016), di Hotel Grand Parama.

Dikatakan Doso, saat ini ia menilai Kabupaten Berau bisa menjadi pusat konsolidasi muatan untuk wilayah Tanjung Selor maupun ke Balikpapan. Sehingga pembangunan lapangan penumpukan yang saat ini masih dalam tahap lelang dengan nilai sekitar Rp30 Milyar di Kota Makassar, diharapkan bisa menjadi daya dukung terciptanya Direct Call di bagian Indonesia Timur, khususnya Kaltim.

“Sudah saatnya Kabupaten Berau ini ditingkatkan daya dukungnya, karena saya lihat ada potensi yang dimiliki wilayah ini untuk menjadi konsolidasi muatan terhadap wilayah lain disekitarnya. Dan kebetulan kami memiliki lahan di Kampung Gurimbang untuk kami optimalkan sebagai lahan penumpukan sementara,” ungkapnya.

Selain itu, dinaikkannya status pelabuhan dari Unit Pengelola Kegiatan (UPK) menjadi Cabang, disebutkan Doso, merupakan bagian dari bertambahnya tanggung jawab yang harus diemban oleh pihak terkait guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat maupun pengusaha di Kabupaten Berau.

“Kenapa Tanjung Redeb kita naikkan statusnya dari UPK menjadi Cabang? Karena tugas dan tanggung jawab mereka juga kita tambah. Buat apa kita naikkan statusnya kalau kerjaannya sama saja seperti kemarin?,” ujarnya.

Sementara itu, untuk terealisasinya Direct Call di Kaltim, ia juga mengimbau kepada seluruh teman-teman pelayaran terutama PT Salam Pasific Indonesia Lines (SPIL) agar membuka diri.

“Kami juga sangat berharap kepada seluruh teman-teman yang terlibat dalam hal ini untuk membuka diri dan jangan sampai ada monopoli didalamnya,” tandasnya seraya mencontohkan dulu di Merauke kondisinya sama seperti di Tanjung Redeb, hanya ada satu perusahan yang masuk. Akhirnya saya memasukkan lagi Peti Kemas, dampaknya harga bisa turun sampai Rp8 juta per kontainer, sehingga masyarakat bisa mendapatkan harga jauh lebih murah.(mta)