Minim Muatan Balik, Perlu Sosialisasi kepada Pemilik Usaha

TANJUNG REDEB – Salah satu faktor tingginya harga barang di Berau merupakan dampak dari minimnya arus muat balik di pelabuhan yang ada, yakni hanya sekitar 8 persen setiap tahunnya. Hal itu ditanggapi Ketua DPRD Berau, Syarifatul Sya'diah, saat diwawancarai beraunews.com, Kamis (16/03/2017).

Menurutnya, hal itu memang benar. Sebab, jika perusahaan peti kemas yang melakukan proses pelayanan jasa angkut muat barang tersebut tidak menerima muatan balik yang sesuai, maka biaya muatan barang menuju pelabuhan Berau akan lebih tinggi.

"Iya, masuk akal memang hal itu. Harusnya arus barang keluar bisa lebih banyak. Paling tidak seimbang, supaya harga yang diterima juga lebih murah dan menutupi harga angkutnya. Jangan sampai peti kemas kembali kosong," ujarnya.

Hal itu menjadi satu PR bagi Pemkab terutama instansi terkait, untuk memecahkan persoalan minimnya arus muatan balik melalui peti kemas ini.

Untuk itu, kerjasama antara instansi teknis terkait dalam memenuhi muatan balik harus dilakukan. Salah satunya dengan cara melakukan sosialisasi atau pemahaman kepada masyarakat terutama pihak yang bergelut dalam bidang usaha. Sebab menurutnya,  kemungkinan minimnya arus muatan balik tersebut karena ketidaktahuan masyarakat dalam hal tersebut.

"Harapan kami, ini bisa disosialisasikan kepada masyarakat yang punya usaha. Misalnya mereka yang punya usaha ikan asin, rempah-rempah, dan lain-lain, bisa diekspor ke luar kota melalui peti kemas. Sebab saya lihat, potensi untuk mengekspor barang di Berau ini cukup besar, namun mungkin ada pertimbangan lain yang membuat mereka selama ini tidak begitu tertarik," ungkapnya.

Selain itu, instansi terkait juga diminta untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, apa keuntungan yang didapat jika melakukan ekspor barang melalui peti kemas, sehingga masyarakat khususnya para pemilik usaha juga dapat tertarik.

"Dijelaskan harga sekali angkut berapa, sampai mana, keunggulannya apa dan sebagainya. Sehingga ada pemikiran masyarakat yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Kemudian yang tadinya lewat darat bisa lebih lama, bisa lewat peti kemas. Tapi, pastinya para pemilik usaha juga tahu berhitung bagaimana jika dibandingkan dengan angkutan melalui darat dan lain-lain," tandasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia