Kolang Kaleng, Bersih Lingkungan Jadi Uang

 

 

TANJUNG REDEB – Tak ada rotan akar pun jadi. Peribahasa inilah yang dapat diaplikasikan ke sosok Muliadi. Pria berusia 26 tahun yang bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan tambang batubara di Berau ini, memiliki kreativitas luar biasa.

Jika biasanya hiasan rumah dibuat dari kayu atau besi, lain halnya dengan apa yang dilakukan Muliadi. Ia menyulap sampah kaleng minuman bekas menjadi barang bernilai jual tinggi.

Pria yang lebih akrab disapa Adi ini, telah memiliki sejumlah karya hasil kreativitasnya dari barang bekas, khususnya kaleng minuman soda, yang didapatkannya di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Dengan bermodalkan kaleng bekas, lem, gunting, karet ban bekas dan kreativitasnya, miniatur vespa, helikopter, becak, motor gede dan mobil-mobilan pun berhasil ia selesaikan dalam waktu tak cukup lama.

"Kalau untuk pembuatan miniatur vespa dan helikopter ini, cuma butuh waktu 2 hari paling lama. Sedangkan untuk motor gede dan mobil bisa sampai 5 hari, karena ada detailnya yang rumit dan mesti dibuat teliti supaya bagus," katanya sambil memperlihatkan beberapa karya dirinya yang ia bawa saat mengunjungi redaksi beraunews.com, Kamis (19/01/2017).

Minatnya membuat benda-benda dari bahan bekas tersebut, rupanya muncul sejak kurang lebih setahun lalu, tepatnya saat ia menonton tayangan di televisi, yang memperlihatkan proses pembuatan miniatur sepeda motor dari barang bekas. Miniatur hasil karyanya kemudian ia beri nama Kolang Kaleng, yang merupakan plesetan dari Kolang Kaling, yang disebutnya memiliki cita rasa manis dan segar.

 

Secara otodidak, ia mempelajari cara membuat miniatur beberapa kendaraan tersebut. Dengan memanfaatkan media sosial sebagai wadah promosi, sejumlah karyanya laku dengan harga cukup tinggi. Seperti vespa yang dipatok harga Rp100 ribu, helikopter Rp90 ribu, motor gede Rp200 ribu dan mobil-mobilan Rp260 ribu.

"Hasil karya saya awalnya memang tidak percaya diri untuk saya perjualbelikan, tapi begitu saya posting di media sosial ternyata banyak yang minat dan pesan berbagai model, akhirnya saya coba menuruti kemauan mereka dan hasilnya cukup disenangi. Harga yang saya tawarkan pun masih bisa nego," ujarnya.

Bukan hanya sekadar menumpahkan kreativitas dan menambah penghasilannya, hal itu juga ternyata membuatnya berhasil meminimalisir sampah yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Sebab, sejak ia mampu membuat barang dari bahan bekas, sampah di sekitar rumahnya pun dapat dimanfaatkan dan berkurang.

"Saya dapat kaleng bekasnya itu kadang dari hasil mengumpulkan sampah di rumah, kadang juga di depan rumah saya, apalagi itu sungai dan banyak kaleng yang dibuang orang sembarangan, jadi saya kumpulkan. Cukup membantu jadi bersih," ucapnya.

 

Atas kreativitasnya tersebut, pada Berau Expo tahun lalu, ia pun berkesempatan mengikutsertakan karyanya dalam pameran di stand Kecamatan Tanjung Redeb. Dalam pekan itu, ia berhasil meraup untung dengan menghabiskan beberapa karyanya untuk dijual kepada pengunjung yang datang.

"Saya buat kalau ada yang pesan. Karena memang waktu yang saya gunakan adalah waktu luang disela-sela pekerjaan," tuturnya.

Meski baru sendiri, namun ia berharap ke depan dapat menularkan semangat tersebut kepada rekan-rekan lainnya, terlebih anak muda yang memiliki kreativitas lainnya.

"Saya tidak hanya membuat miniatur kendaraan dari bahan kaleng bekas, tapi ada juga frame atau bingkai foto dari kardus bekas. Ke depan, saya bermimpi bisa membuat lebih banyak karya yang dapat bernilai jual tinggi. Tak hanya itu, sampah-sampah bisa terus dimanfaatkan menjadi bahan dasarnya," pungkasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia