Lahan Luas, Sektor Pertanian Sepi Penerus

 

TANJUNG REDEB – Meskipun mendapat dukungan potensi lahan yang masih cukup luas, perkembangan sektor pertanian di Kabupaten Berau setiap tahunnya menunjukkan trend stagnan. Penyebabnya, mulai dari harga jual yang rendah dan tak sesuai dengan keinginan petani hingga Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak cukup untuk mengolah potensi yang besar tersebut.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan) Berau, Ilyas Natsir mengakui jika permasalahan sudah terlihat sejak beberapa tahun lalu. Minimnya minat pekerja di sektor ini, membuat pertanian di Berau perkembanganya sangat lambat.

“Kalau kita lihat orangnya hanya itu-itu saja, tidak ada perubahan. Padahal kondisi fisik serta usia tidak sekuat dulu lagi, akibatnya lahan yang harusnya digarap bisa mencapai belasan hektar, tidak bisa terpenuhi dengan maksimal karena pekerjanya sudah mulai lanjut usia,” ungkapnya kepada beraunews.com melalui saluran telepon, Sabtu (17/12/2016).

Dikatakannya, meski pemerintah telah menyusun perencanaan untuk peningkatan pertanian, dimana Bumi Batiwakkal menjadi salah satu daerah sebagai penyumbang pertanian terbesar di Kaltim. Dengan jagung, menjadi penghasil terbesar di Kaltim sebesar 60 persen, sementara padi masuk dalam peringkat empat.

“Lahan kita kan masih luas sekali, sehingga pengembangan di sektor ini harus maksimal, tapi kembali ke permasalahan awal tadi. Pekerjanya yang tidak ada,” tuturnya.

Ilyas menambahkan, pemeritah telah mengatur rencana untuk mengatasi kekurangan SDM pertanian dengan menggunakan pola mekanisasi. Dalam hal ini, lahan-lahan pertanian akan dibagi-bagi untuk pengolahan dengan menggunakan mesin, mulai dari tanam hingga panen.

“Kalau dulu kan mencangkul, sekarang tidak lagi sudah ada traktor tangan, begitu juga dengan menanam sudah pakai mesin. Mudah-mudahan walaupun tenaga kurang tapi pengolahan lahan yang luas bisa cepat dilakukan,” harapnya.

Dengan pola yang seperti ini, disampaikannya juga untuk mengembalikan minat para generasi muda terhadap sektor pertanian. Apalagi didukung dengan nilai jual yang sesuai dengan keinginan petani.

“Kita ubah dulu pandangan pertanian ini, dari yang kotor sekarang menjadi bersih dan tidak perlu keluar keringat banyak lagi karena sudah pakai mesin. Pasti mereka akan tertarik dan regenerasi muncul lagi,” tutupnya.(M.S. Zuhrie)