Pemadaman Kian Masif, Warga : Kota Rasa Desa

TANJUNG REDEB – Pemadaman listrik bergilir tak sesuai jadwal yang ditentukan PLN sejak beberapa hari lalu, menuai kritik dari berbagai pihak, terutama dari masyarakat yang memiliki usaha dengan mengandalkan listrik.

PLN dinilai menjadi salah satu penyebab menurunnya pendapatan usaha mereka. Seperti yang diungkapkan pemilik studio percetakan dan foto di Jalan Milono, yang mengaku pekerjaannya sangat terganggu akibat pemadaman listrik yang tidak menentu dan seringkali terjadi.

"Terkadang jadwal matinya bukan hari ini malah mati hari ini, tidak sesuai dengan yang dijadwalkan. Jadi menyulitkan juga usaha kita ini, apalagi kalau lagi mengedit foto langsung tiba-tiba mati komputernya dan belum sempat disimpan," ungkap Indra kepada beraunews.com, Jumat (11/11/2016).

BACA JUGA : Jika Byar Pet Di Atas 10 Persen, Masyarakat Bisa Tuntut Ganti Rugi

Tak hanya pemilik studio percetakan dan foto, beberapa pemilik usaha lain, seperti kuliner dan percetakan pun mengeluhkan hal serupa.

"Biasanya kalau mati lampu saya memang pakai genset, tapi makin kesini mati lampunya semakin sering dan tidak beraturan. Terpaksa saya tutup kalau sedang mati lampu, soalnya saya mengandalkan blender untuk menjual minuman-minuman saya. Begitu juga wifi otomatis akan terputus kalau mati lampu, sedangkan pemasaran saya juga banyak melalui online," ujar Tiara, seorang penjual minuman dan jus buah di Jalan Haji Isa I.

 

Perawatan mesin yang menjadi alasan utama pihak PLN kerap melakukan pemadaman bergilir, dikatakan Tiara bukan sebagai alasan yang pantas untuk dikemukakan kepada masyarakat. Pasalnya, meski pemadaman bergilir terus dirasakan, namun biaya listrik yang dibayar setiap bulan tetap normal.

BACA JUGA : Listrik Sering Padam, Posbakumadin Siap Dampingi Class Action Masyarakat Berau Ke PLN

Selain itu, ia juga mengkhawatirkan beberapa alat elektronik miliknya akan mengalami kerusakan akibat pemadaman bergilir yang hingga saat ini masih menjadi kegelisahan masyarakat.

"Kalau ada kompensasi atau biaya listrik kita dikurangi setiap kali ada pemadaman, ya tidak begitu masalah. Yang paling beresiko juga alat elektronik kita, bukan cuma takut rusak, tapi pasti tarif listrik semakin naik kalau mati nyala mati nyala begini," keluhnya.

Ia berharap PLN dapat segera menjadi penyedia listrik yang tidak selalu dikeluhkan masyarakat.

"Semoga ke depan PLN bisa punya mesin cadangan. Jadi kalau mesin yang satu dirawat mesin cadangan bisa digunakan, sehingga tidak ada pemadaman bergilir yang terus-terusan dirasakan masyarakat. Hidup di kota tapi terasa hidup di desa," tandasnya.(Marta)