Lokasi Parkir Dipindah, Penghasilan Pedagang Menurun

TELUK BAYUR – Peraturan pemerintah daerah yang mengharuskan pengunjung parkir di area depan Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD), mendapat tanggapan keras dari para pedagang pasar basah.

Ratusan pedagang, Selasa (7/6/2016) pagi sekitar pukul 09.30 Wita, mendatangi Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pasar Sanggam Adji Dilayas, meraka menuntut agar peraturan tersebut segera di cabut. Pasalnya, peraturan yang mulai berlaku 1 Juni 2016 itu, dianggap sebagai penyebab sepinya pengunjung yang datang hingga merembet pada pendapatan pedagang yang menurun drastis.

Seperti yang dikatakan Hasim, salah seorang pedagang sayuran yang juga tidak setuju dengan aturan tersebut, sejak diberlakukannya sistem larangan parkir di dalam, ia mengaku pendapatannya bisa menyusut hingga 50 persen.

"Kami sangat merasa dirugikan dengan adanya peraturan semacam ini, sebab penghasilan kami bisa menurun sampai setengah dari biasanya sejak pengunjung tidak diperbolehkan parkir di tempat seperti biasa (didalam area pasar-red)," ungkapnya saat diwawancari beraunews.com di tengah kegiatan penyampaian aspirasinya.

Menurutnya, meskipun disediakan troli untuk memudahkan pengunjung saat berbelanja, hal itu tidak menjamin keamanan barang yang ditinggalkan pengunjung saat berada di lahan parkir yang cukup jauh dari lokasi perbelanjaan.

"Banyak yang mengeluh, bukan hanya kami sebagai pedagang yang merasa dirugikan, tapi juga pengunjung. Kemarin saja ada ibu-ibu yang kehilangan barangnya saat ditinggal di motor. Dan dampaknya kami justru kekurangan pembeli, mereka lebih memilih untuk belanja di pasar-pasar luar. Apalagi kasihan pengunjung yang membawa anak, capek lah jalan jauh-jauh," ujarnya.

Side, pedagang yang ditemui beraunews.com juga berharap agar pemerintah juga memikirkan dampak nyata dari aturan tersebut. Terkait aturan untuk menggunakan stiker bagi kendaraan pedagang yang hendak masuk, menurutnya tidak akan efektif mengatasi persoalan yang ada saat ini. Perlu diketahui, sejak peraturan itu diterapkan, hanya pedagang saja yang boleh memasukkan kendaraan mereka ke lokasi pasar, namun sebelumnya harus membeli stiker kepada pihak pengelola pasar. Harga stiker untuk kendaraan roda dua Rp25 ribu, sedangkan kendaraan roda empat Rp50 ribu, dengan jangka waktu berlaku stiker selama satu bulan.

"Harapan kami ini, ya supaya aturan-aturan semacam ini jangan membuat kami sebagai pedagang jadi rugi karena pengunjung jadi berkurang. Kembalikan situasi menjadi seperti sedia kala, kami menuntut agar kebijakan seperti ini segera dicabut, dari pada ribut terus lebih baik kembalikan seperti biasa," pinta pria yang juga Ketua Pasar Subuh.

Sementara itu, Jama, salah seorang pedagang baju dan kain mengungkapkan dampak dari penerapan kebijakan tersebut yang juga dirasakannya.

"Kalau sampai saat ini, ya ada juga perbedaan yang kita rasakan selama pengunjung dilarang parkir ke dalam. Meskipun kita jualannya ada dibagian luar, tapi karena aturan itu, pengunjung pasar kan jadi malas ke pasar, akibatnya sepi juga sampai ke pedagang-pedagang baju ini. Tapi mau bagaimana, namanya aturan pemerintah, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya berharap supaya pengunjung pasar bisa kembali ramai, baik di pasar bagian dalam maupun pasar bagian luar," tandasnya.(mta)