Produksi Capai 40 Ton, Berau Optimis Swasembada Bawang Merah

 

TANJUNG REDEB – Guna menjaga ketahanan pangan, khususnya komoditas barang dagang pertanian yang memacu terjadinya inflasi seperti bawang merah, Pemkab Berau melalui Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) dan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan) terus memberdayakan petani lokal. Petani lokal mendapatkan pendampingan dan penyuluhan dari instansi teknis dalam mengembangkan budidaya bawang merah lokal.

Kepala BKP3 Berau, Sumaryono mengatakan, pengembangan budidaya bawang merah lokal yang dilakukan petani telah membuahkan hasil yang cukup maksimal. Hal ini terbukti dengan diperolehnya penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara Tingkat Provinsi dengan predikat Juara I oleh kelompok tani yang berada di Jalan Poros Berau-Bulungan, Kecamatan Gunung Tabur.

Penghargaan ini diraih kelompok tani yang diketuai Rasyid, berkat keberhasilan mengembangkan budidaya bawang merah lokal. Dimana, produksi dari budidaya tersebut bisa mencapai 40 ton per sekali musim panen.

“Harapan kita nanti, memang bisa berkembang terus di Berau. Selain di Kecamatan Gunung Tabur, untuk wilayah Kecamatan Sambaliung itu ada di Tumbit. Kemudian, Segah itu ada di Kampung Tepian Buah. Itu semua kita dampingi dan hasilnya lumayan bagus,” katanya.

BACA JUGA : Ketersediaan Lokal Melimpah, Inflasi Di Berau Masih Terkendali

Masa bercocok tanam bawang merah, dijelaskan Sumaryono, hingga masa panen, dibutuhkan waktu antara 60 hari sampai 70 hari. Dalam setahun, bisa dua hingga tiga kali masa panen.

“Mulai siap sampai (panen), itu kurang lebih untuk tanamannya sendiri itu 60 hari sampai 70 hari itu sudah panen,” jelasnya.

Ditambah Sumaryono, khusus kelompok tani yang diketuai Rasyid, mereka memiliki perbandingan hingga 13 (tiga belas) kali. Artinya, dengan membudidayakan 1 kuintal bibit bawang merah, maka bisa menghasilkan 13 kuintal bawang merah.

“1 bibit bandingannya 13. Misalnya, kita nanam 1 kuintal bisa menjadi 13 kuintal, itu yang terjadi,” tambahnya.

Terkait penetapan harga ekonomis bawang merah lokal, diungkap Sumaryono, kedepannya tentu harus dibuat. Sebab, apabila terjadi kelangkaan atau melimpahnya stok, pasti akan berlaku hukum ekonomi, yakni adanya penawaran dan permintaan (supply dan demand).

Dimana, harga dari suatu produk, ditentukan oleh keseimbangan antara tingkat produksi pada harga tertentu, yaitu penawaran dan tingkat keinginan dari orang-orang yang memiliki kekuatan membeli pada harga tertentu, yaitu permintaan.

“Konsumen tidak dirugikan dan petani juga tidak dirugikan, sama-sama untunglah. Insya Allah (regulasi penetapan harga) itu memang harusnya disiapkan seperti itu,” ungkapnya.

Sumaryono mengharapkan, kedepannya Berau tidak lagi mendatangkan bawang merah dari produksi petani luar. Melainkan, terus memberdayakan petani lokal yang ada. Hal ini pun telah menjadi semangat tersendiri bagi petani lokal untuk terus mencapai swasembada bawang merah Berau.

“Justru harapan kita seperti itu dan petaninya sendiri semangatnya seperti itu. Kami ingin supaya Berau ini tidak mendatangkan bawang merah dari luar, itu semangatnya,” pungkasnya.(Andi Sawega)