Ketersediaan Lokal Melimpah, Inflasi Di Berau Masih Terkendali

 

TANJUNG REDEB – Inflasi Kabupaten Berau saat ini masih mengacu pada perhitungan inflasi Kaltim, yang dihitung berdasarkan pemantauan di tiga kabupaten/kota (Samarinda, Balikpapan dan Tarakan). Dari perhitungan itu, ada tiga komoditas barang dagang yang dapat memacu terjadinya inflasi, yakni cabai, bawang merah dan ayam potong.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Berau, Sumaryono mengatakan, terjadinya inflasi pada ketiga komoditas ini di Kabupaten Berau sendiri, hanya terjadi pada kondisi-kondisi tertentu. Seperti, adanya peringatan hari besar keagamaan maupun momentum menjelang pergantian tahun.

“Kalau pemantauan kami, itu pada kondisi-kondisi tertentu yakni hari besar keagamaan seperti idul fitri dan natal. Kemudian, pas kondisi menjelang tahun baru,” katanya.

BACA JUGA : Presiden Minta Daerah Kendalikan Inflasi, Berau Masih Aman

Berdasarkan data neraca ketersediaan dan kebutuhan pangan Kabupaten Berau di tahun 2015, dijelaskan Sumaryono, terkait daging unggas (ayam potong) sebetulnya Kabupaten Berau memiliki ketersediaan lokal hingga 139 persen. Dimana, kebutuhan daging unggas hanya sebesar 2.162 ton per tahun, sedangkan persediaan daging unggas mencapai 3.119 ton per tahun.

“Kita memantaunya dari posisi necara ini, memang antara ketersediaan sama kebutuhan itu ada berlebih. Akumulasinya yang kita tarik dalam bentuk ketersediaan kalori dan kalau informasi dari Dinas Peternakan untuk konsumsi itu, sebenarnya kita sudah berlebih dan sudah melebihi target nasional konsumsi per kapitanya,” jelasnya.

Terkait cabai dan bawang merah, disampaikan Sumaryono, pihaknya telah menggerakkan kelembagaan (kelompok) yang ada di petani untuk memproduksi komoditas-komoditas yang dapat memacu inflasi itu. Pendampingan dan pengembangan selain didukung oleh pihaknya, Dinas Pertanian juga turut andil berkontribusi.

“Antisipasi inflasi, kita menggerakkan kelembagaan yang ada di petani untuk berproduksi komoditas-komoditas yang memacu inflasi itu. Seperti lombok dan bawang merah, itu kita damping dan kontribusinya juga didukung oleh Dinas Pertanian jadi pengembangan holtikultura (budidaya tanaman kebun) kalau itu,” ucapnya.

Pendampingan dan pengembangan, yang dimaksud Sumaryono, yakni Dinas Pertanian menyediakan sarana dan prasarana bidang pertanian. Sementara, BKP3 melakukan pendampingan berupa penyuluhan.

“Dinas Pertanian itu menyediakan sarananya (sapronia), kita pendampingan penyuluhnya karena disinikan ada BKP3,” bebernya.

Untuk Kabupaten Berau sendiri, ditegaskan Sumaryono, kondisi inflasi yang terjadi selama ini masih normal. Dari sisi pemantuan stabilitas, memang kerap terjadi rentan koefisien yang bervariasi, naik turunnya harga ketiga komoditas. Namun, itu masih berada di bawah 20 persen.

“Kalau naik turunnya masih di bawah 20 persen, itu masih posisi stabil saja. Kesimpulannya seperti itu, tapi kalau di masyarakat, jangankan sampai segitu, 1 persen saja, masih ada hal yang dianggapnya naik,” pungkasnya.(Andi Sawega)