Harga Rendah, Tak Semua Kelompok Tani Jalin Kerja Sama Dengan PT BUS

 

TANJUNG REDEB – Sejak temu usaha yang digelar PT Berau Unggas Sejahtera (BUS) bersama puluhan petani yang berada di wilayah pesisir guna menjalin kemitraan, ternyata juga banyak mendapat tanggapan positif.

Ya, setidaknya ada kurang lebih 20 kelompok tani telah menyatakan kesiapannya menjalin kemitraan bersama PT.BUS. Sesuai dengan agenda, Rabu (14/9/2016) pemerintah kampung harus telah menyerahkan nama-nama kelompok mana saja yang bersedia menjalin MoU dengan perusahaan tersebut.

Disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan) Berau, Ilyas Natsir melalui Kasi Palawija, Saleh, ada belasan kelompok dari dua Kecamatan Biatan dan Kecamatan Talisayan telah menyerahkan data. Selanjutnya kata dia, kelompok tani yang yang sudah mengumpulkan data tersebut akan melakukan panandatanganan MoU, Kamis (15/9/2016) besok.

“Saat ini hanya Kecamatan Batu Putih yang belum ada jawaban,” ungkapnya pada beraunews.com di ruang kerjanya.

BACA JUGA : Perusahaan Tawarkan Harga Pembelian Jagung Rp2.000 Per Kg, Petani Masih Pikir-Pikir

Ia merincikan 20 kelompok tani itu terdiri dari 8 kampung dari dua kecamatan yang sudah siap menjalin kemitraan dengan PT.BUS. Seperti Kampung Biatan Ilir di Kecamatan Biatan, dan untuk wilayah Talisayan yakni Kampung Eka Sapta, Sumber Mulya, Purnasari Jaya, Suka Murya, Dumaring, hingga Kampung Tunggal Bumi. Berdasarkan hasil inventarisasi pihaknya, dari sejumlah kampung tersebut, setidaknya didapatkan luas lahan kurang lebih 600 hektar lahan pertanian jagung.

“600 hektar ini lah yang sudah siap untuk kemitraan ini,” ujarnya

BACA JUGA : Dispertan : Kemitraan Dengan Perusahaan Sayang Dilewatkan, Ini Alasannya

Namun jika dibandingkan dengan jumlah kampung di tiga kecamatan, baik dari Talisayan, Biatan, dan Batu Putih, jumlah kampung yang menjalin kerja sama dengan PT BUS terbilang masih sangat sedikit. Apalagi untuk kelompok tani yang berada di Batu Putih masih belum diketahui apakah telah sepakat untuk bermitra dengan PT BUS atau tidak.

 

Hal itu lantaran harga yang ditawarkan PT BUS sebesar Rp2.000 per kilogram dinilai masih rendah, jika dibandingkan harga pembelian dari tengkulak. Praktis saja, jika masih banyak petani dari kampung-kampung lain masih pikir-pikir hingga sekarang dengan tawaran tersebut, dan bahkan ada yang menolaknya.

“Tapi meski lebih mahal pembelian tengkulak terbatas. Sementara diperusahaan itu memang harga lebih rendah tapi tidak terbatas. Bahkan untuk memenuhi target yakni 5 hingga 7 ton jagung per hektar, juga akan didukung oleh pihaknya dan perusahaan, ” tutupnya.(Hendra Irawan)