Perusahaan Tawarkan Harga Pembelian Jagung Rp2.000 Per Kg, Petani Masih Pikir-Pikir

TALISAYAN – Minggu (4/9/2016), bertempat di pendopo Kecamatan Talisayan digelar acara temu usaha kemitraan antara gabungan kelompok tani dari tiga kecamatan, yakni Talisayan, Biatan dan Batu Putih dengan Dinas Pertaniaan Tanaman Pangan (Dispertan) Berau serta PT Berau Unggas Sejahtera (BUS).

Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka pengembangan agribisnis jagung di tiga kecamatan. Pertemuan tersebut sekaligus menjawab keluhan petani terkait permasalahan klasik yang kerap menjadi keluhan petani, yakni harga dan pemasaran tanaman jagung. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksa Penyuluh Mariono, sejumlah kepala kampung, Danramil Talisayan, dan Kapolsek Talisayan.

Acara yang berlangsung sekitar pukul 09.00 Wita itu, membahas terkait kerjasama antara pihak petani dan perusahaan yang difasilitasi langsung oleh Kepala Dispertan Berau, Ilyas Natsir. Dalam pertemuan itu, PT. BUS bersedia menampung seluruh hasil panen jagung petani di tiga kecamatan dengan harga Rp2.000 per kilogram.

Penawaran harga pembelian tersebut bukan tanpa dasar, melainkan hal itu sudah dilakukan perhitungan matang dengan memperhitungkan segala untung rugi. Hanya saja, baik petani maupun kepala kampung masih belum mengatakan kata sepakat, lantaran harus berkomunikasi dengan petani yang ada di kampung masing-masing.

Sementata diakhir acara, Ilyas Natsir menjelaskan, dalam pertemuan itu petani masih berupaya melakukan negosiasi harga kepada PT BUS. Tetapi ada sebagian petani sudah sepakat dengan harga pembelian yang ditawarkan perusahaan, sementara sebagian kepala kampung dan gapoktan lainnya juga sudah setuju, namun harus dikomunikasikan kepada petani petani lain yang ada di kampung masing-masing.

"Itu harus dibicarakan dengan anggota masing-masing, apakah mereka setuju atau tidak setuju. Yang setuju akan didata berapa kelompok dan akan dilakukan MoU pada 15 September mendatang. Sementata yang tidak setuju tidak masalah," ungkapnya kepada beraunews.com.

Jika antara petani dan pihak perusahaan sudah menjalin MoU, dikatakan Ilyas, maka kemitraan akan dilaksanakan sesegera mungkin.

"Paling lambat itu januari tahun mendatang sudah jalan. Tapi kalau memungkinkan lebih cepat akan lebih baik dan itu akan diupayakan oleh pihak perusahaan," bebernya.

Sementara itu, Direktur Utama PT BUS, Heri Kumala menyampaikan, pada intinya kerja sama yang ingin dijalin pihaknya dengan petani bertujuan untuk kesejahteraan petani, khususnya di tiga kecamatan sebagai penghasil jagung terbesar di Kabupaten berau.

Terkait harga yang ditetapkan pihaknya, lanjut Heri, sudah tidak ada masalah. Tinggal menunggu kepastian, ada berapa banyak kelompok tani yang ingin bermitra dengan PT BUS.

"Pada umumnya mereka mau, hanya tinggal menyampaikan ke kelompok tani masing-masing lagi. Nanti, tanggal 10 mendatang kita akan data kelompok mana saja yang ingin bermitra, dan 15 september ada penanda tanganan MoU. Ini akan berlangsung dalam jangka panjang," ujarnya.

Tetapi ditambahkannya, bukan berarti pihaknya menerima seluruh jagung tanpa ada kriteria khusus. Disampaikan Heri, pihaknya menerima jagung berdasarkan kualitas, sementara kuantitas tidak dibatasi berapapun jumlahnya akan diserap.

"Standar untuk kadar air kita minta 14 persen, tingkat kebersihannya harus bagus dan umur panen jagung sendiri 115 hari ke atas," pungkasnya.(Hendra Irawan)