3,4 Ton Benih Jagung Belum Cukup Bagi Petani Eka Sapta

 

TALISAYAN - Sejauh ini, sektor pertanian masih menjadi salah satu potensi unggulan di hampir seluruh kampung yang ada di Kabupaten Berau. Tak terkecuali masyarakat yang ada di Kampung Eka Sapta, Kecamatan Talisayan.

Sekarang, sektor pertanian masih menjadi andalan masyarakat setempat dalam menggerakkan roda ekonomi. Apalagi, Pemerintah Kampung Eka Sapta sendiri menjadikan pertanian jagung sebagai program unggulan, guna mewujudkan Kampung Eka Sapta sentra produksi jagung terbesar di Berau.

Disampaikan Pjs Kepala Kampung Eka Sapta, Nuri Jauhari, pihaknya optimis dengan program pengembangan pertanian jagung. Apalagi, 3 ton lebih bantuan benih jagung jenis NK 212 yang dibagikan di kampungnya.

"3.400 kilogram lebih sudah habis tertanam  dari bulan Juli sampai Agustus ini," ungkapnya kepada beraunews.com, Jumat (25/08/2017).

Bahkan kata dia, tingginya antusias petani sampai-sampai pihaknya kekurangan benih untuk mencukupi lahan petani yang sudah siap tanam. Untuk mengupayakan hal tersebut, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk dengan salah satu petugas dari Dinas Pertanian. Saat itu, informasi yang diperoleh, jika sewaktu-waktu kehabisan bibit, dapat berkoordinasi dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di sekitar Kampung Eka Sapta.

Guna mengupayakan permintaan petani, pihaknya pun mencoba melakukan koordinasi terkait kurangnya benih jagung dengan petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Talisayan dan petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) guna menemukan solusi.

 

"Alhamdullilah, kemarin ada solusi dari Gapoktan Dumaring, jadi kami pinjam bibit jagung sementara kurang lebih satu ton dan sudah kami ambil. Karena berdasarkan koordinasi kami dengan petugas BPP dan PPL, warga belum menanam sehingga bisa dipergunakan terlebih dulu," jelasnya.

Terkait masalah tersebut, ia berharap Dinas Pertanian Berau, melalui BPP Kecamatan dalam melakukan pendataan pertanian sektor jagung dapat lebih baik dan akurat. Sebab kata dia, masa pertanian jagung di kampungnya tidak selalu sama dengan kampung lain.

"Karena menurut data kami, petani di Kampung Eka Sapta bertahap cara tanamnya. Setelah panen hanya selisih satu bulan petani udah tanam lagi," bebernya.

Sementara ditanya terkait pergantian bibit yang dipinjam dari Gapoktan Kampung Dumaring, Ia mengatakan masih diupayakan.

"Kita juga meminta solusi dari Dinas Pertanian Berau terkait kekurangan benih ini," tandasnya.(bnc)

Wartawan: Hendra Irawan/Editor: Rita Amelia