Pemanjat Madu Bentuk Lembaga Pengelola Madu

KELAY – Masih menyimpan potensi madu hutan yang cukup bagus, masyarakat Berau, khususnya pemburu madu sepakat bentuk lembaga pengelolaan madu bersama.

Jonis, tokoh adat Kampung Teluk Sulaiman, Kecamatan Biduk-Biduk menuturkan, pihaknya punya banyak harapan demi peningkatan pengelolaan salah satu hasil hutan bukan kayu itu. Mulai dari proses pemanenan yang lebih aman, hingga tahap pemasaran.

"Karena, selama 15 tahun terakhir ditambah pesan orangtua dan mertua saya yang memanjat madu, supaya lebih tahan lama, madu tidak boleh diperas. Juga adanya kembang di hutan," katanya mencontohkan.

Sedangkan Rio Bertoni, Koordinator Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) Indonesia menuturkan, madu hutan merupakan komoditas unggulan yang menjadi peluang besar dalam menyejahterakan masyarakat. Akan tetapi, beberapa hal perlu diperhatikan khususnya teknik pemanenan.

"Ketika mengusir lebah, tidak dibenarkan menggunakan api. Tapi dengan asap, supaya tidak membunuh koloni lebah. Sarang yang dipanen pun tidak boleh diambil seluruhnya. Cuma kepala madu saja," ujarnya dalam workshop dengan konsep pemanenan madu lestari di Merabu, pekan lalu.

Selain itu kepada beraunews.com, Rio juga menuturkan keterjagaan Sumber Daya Alam (SDA) di sekitar sangat berpengaruh. Semakin kaya SDA yang dimiliki suatu kawasan, maka kemungkinan intensitas panen madu semakin melimpah.

"Artinya, belajar tentang madu kita juga belajar bagaimana tetap menjaga kelestarian alam. Seperti yang dilakukan masyarakat kampung Merabu, misalnya. Disamping mengandalkan hutan, mereka juga sudah mulai membuat kebun untuk penuhi kebutuhan pangan sendiri. Mulai dari berkebun aneka sayur sampai beternak sapi dan kambing," ujarnya.

Pelatihan yang berlangsung dengan peserta pemanjat madu se-Berau tersebut, diakhiri dengan aksi minum madu di puncak Ketepu Bukit Karst Merabu pada puncak perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia.(ima)