Sinergikan Kerja Demi Peningkatan Kesehatan

TANJUNG REDEB – Menyadari kesehatan merupakan dasar dari penunjang pembangunan mental dan fisik masyarakat, pemerintah Kampung Tembudan, Kecamatan Batu Putih, mendorong warganya bisa menerapkan pola hidup sehat. Dari berbagai kegiatan sosialisasi dan penyuluhan yang dilakukan pemerintah kabupaten maupun provinsi, kepala kampung mendorong warganya untuk hidup sehat.

Kepala Kampung Tembudan, Nuriman menegaskan, pihaknya menjadikan masalah kesehatan sebagai program unggulan kampung. Pasalnya, dengan segala keterbatasan bagi warganya, kesehatan merupakan sesuatu yang sangat mahal.

“Mencegah lebih murah dari pada mengobati, apalagi kalau sampai sakit parah, kita ini jauh dari rumah sakit yang tentunya pasti sudah pasti mahal,” ungkapnya kepada beraunews.com, Minggu (21/8/2016).

Untuk itu, dirinya sangat berterima kasih dengan kegiatan sosialisasi kesehatan yang melibatkan lintas sektoral di Tembudan baru-baru ini. Dalam sosialisasi itu, dikatakan Nuriman, tim kesehatan dari Provinsi Kalimantan Timur hadir untuk memberikan penyuluhan kesehatan, penanganan kesehatan bagi balita dan pencegahan gizi buruk. Menurutnya, hal ini juga dilengkapi dengan pengetahuan menjaga kesehatan orang tua.

Dengan terjaganya kesehatan orang tua dan lingkungan, otomatis akan lebih mudah untuk menyehatkan anak-anaknya. Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Puskesmas Batu Putih itu, disebutkannya menghadirkan seluruh lintas sektoral, mulai dari dunia pendidikan, kesehatan, jajaran TNI, hingga masyarakat umum.

“Kami sangat mengapresiasi tim dari Dinas Kesehatan Provinsi yang sudah datang jauh kesini untuk melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan sampai ke Batu Putih, terutama kesehatan balita,“ tuturnya.

Ditambahkannya, dengan hidup di kampung yang sudah terlanjur biasa dengan pola hidup seperti biasa, banyak yang tidak sesuai dengan pola hidup sehat sesuai standar kesehatan. Terutama dalam mengasuh bayi hingga balita.

Asupan gizi dari orang tua untuk balita menurutnya perlu diketahui, sehingga tidak ada lagi bayi yang mengalami gizi buruk. Sebab, ada banyak kasus gizi buruk biasanya berasal dari warga kampung, yang memang belum memahami asupan gizi seimbang dan tepat untuk balita.

“Warga diberikan pengetahuan bagaimana cara mengasuh balita yang benar, makanan apa saja yang baik buat balita, bagaimana cara menjaga lingkungan yang sehat untuk balita dan sebagainya. Artinya yang selama ini tidak kami ketahui menjadi tahu, semoga apa yang disampaikan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan ditularkan ke warga lainnya,” tandasnya.(msz)