Gurimbang Terus Kembangkan Potensi Pertanian Dan Perkebunan

SAMBALIUNG – Menjadi kampung terbaik nasional tahun 2015, tak membuat pemerintah Kampung Gurimbang berhenti mengembangkan potensi yang ada, bahkan menyadari memiliki area yang luas dan cukup subur, pemerintah Kampung Gurimbang mengembangkan berbagai komoditi pertanian dengan tujuan utama mengangkat ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan segala yang bisa menghasilkan.

Tujuan ini juga selaras dengan upaya menjadikan Gurimbang bebas pengangguran. Saat ini, Gurimbang sudah mengembangkan perkebunan dan pertanian yang bernilai ekonomi cukup tinggi dalam menopang kehidupan warganya.

“Apa saja yang bisa menjadi sumber ekonomi masyarakat kami akomodir, dikelola dan kita dorong warga untuk mengembangkannya. Dengan kemampuan ADK (Alokasi Dana kampung-red) kami dukung,” jelas Kepala Kampung Gurimbang, Madri Pani, Senin (15/8/2016).

Dijelaskan Madri, di Gurimbang kini sudah ada perkebuan kayu gaharu, yang diadakan dengan cara mendatangkan bibit unggul untuk ditanam oleh kelompok tani yang ada. Sedikitnya ada 6 hektar lahan gaharu yang saat ini sudah tumbuh dengan baik.

Disamping itu, perkebunan kelapa sawit juga sudah merasuk di kampung itu. Sedikitnya ada 250 hektar perkebunan sawit yang dikembangkan warganya. Bahkan untuk komoditi ini, sudah sejak lama warganya merasakan hasil panen kelapa sawit. Apalagi, di Berau saat ini sudah ada beberapa perusahaan pengolah biji sawit yang berada di kecamatan ulu hingga pesisir.

“Tak mau ketinggalan, kami juga sudah kembangkan komoditi lada. Ada sekitar 25 hektar kebun lada warga di Gurimbang dan juga sudah menghasilkan,” ujarnya lagi.

Menurut Madri, komoditi tersebut merupakan komoditi unggulan di Berau yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Seperti lada misalnya, dengan harga mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu per kilonya, menjadikan tanaman ini sebagai tanaman yang kini banyak dikembangkan di Gurimbang dan banyak kampung lainnya di Berau. Tak sampai disitu, pemerintah Kampung Gurimbang juga mendorong warganya untuk mengembangkan komoditi jangka pendek seperti tanaman buah semangka.

“Hasilnya luar biasa, karena hasil panen dan harganya yang stabil sangat mendukung. Dalam satu hektar bisa menghasilkan 15 ton semangka, dikalikan harga terendah Rp4 ribu per kilonya, sudah sangat besar sekali,” jelasnya.

Tidak hanya semangka, Gurimbang kini juga menjadi daerah penghasil tanaman sayur-sayuran, kacang panjang, buncis, tomat, melon dan lainnya. Usaha warga ini juga terdukung dengan keberadaan Badan Usaha MIlik Kampung (BUMK) yang menjadi payung bagi pelaku usaha pertanian warga.

“Untuk usaha lain ada pembuatan kompos, ini juga berkaitan dengan usaha pertanian, sebagai pupuk, dan sekali lagi sebagai usaha meniadakan pengangguran di kampung kami,” pungkasnya.(msz)