Miris!!! Dikelilingi Tambang, Kampung Ini Tak Teraliri Air Bersih

 

TELUK BAYUR – Aneh tapi nyata, kalimat inilah yang paling pas menggambarkan keadaan Kampung Tumbit Melayu, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Betapa tidak, kampung yang secara geografis dikelilingi tambang batu bara, nyatanya hanya sekedar kebutuhan air bersih masyarakat sekalipun, hingga kini belum terpenuhi.

Kampung Tumbit Melayu memang layak dinobatkan sebagai kampung tambang. Pasalnya, diseluruh penjuru mata angin, terdapat setidaknya 5 perusahaan tambang yang beroperasi, yang menurut penuturan warga setempat, yakni sebelah Barat dan Utara, beroperasi PT Berau Coal beserta kontraktor tambangnya. Sebelah Timur dan Selatan berturut-turut PT Sungai Berlian Bakti dan PT Rantaupanjang Utama Bakti serta PT Mega Alam Sejahtera dan PT Kaltim Jaya Bara.

Namun demikian, kebutuhan air bersih masyarakat kampung tambang ini, bukannya tak dipedulikan oleh perusahaan tambang yang beroperasi di sana. PT Berau Coal, misalnya, telah merealisasikan sekurangnya 3 unit Water Treatment Plant (WTP), yakni di RT 1, RT 9 dan RT 10. Hanya saja, WTP yang dibangunkan tersebut, beroperasi dalam hitungan bulan saja sejak diresmikan tahun 2015 lalu. Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kampung Tumbit Melayu, Yusran.

Dikatakannya, hingga kini, air bersih tak pernah lagi bisa dinikmati masyarakat Tumbit Melayu. Padahal, pipa distribusi sudah hampir merata tersambung hingga ke rumah-rumah warga. Mengingat air bersih merupakan kebutuhan pokok masyarakat, maka ia meminta agar Pemerintah Kabupaten Berau melalui PDAM Tirta Segah, untuk turun tangan membantu kebutuhan air bersih ini.

 

“Kami mohon Bupati Berau, Muharram menginstruksikan PDAM Tirta Segah untuk turun meninjau dan meneliti secara teknis ketiga unit WTP yang telah dibangunkan oleh PT Berau Coal, untuk mengetahui apakah dengan WTP yang ada itu dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Kampung Tumbit Melayu. Kepada PT Berau Coal, kami ucapkan terima kasih banyak atas bantuannya membangun WTP yang ada,” ucapnya kepada beraunews.com, Sabtu (21/04/2018).

Terpisah, anggota Badan Pemusyawaratan Kampung (BPK) Tumbit Melayu, Kaharuddin berharap, apapun nantinya hasil penelitian teknis yang dilakukan PDAM Tirta Segah, termasuk jika belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, maka perusahaan tambang yang beroperasi mengelilingi kampung tersebut, dapat bersama-sama membantu memenuhi kekurangannya.

“Kami sangat berharap PDAM dapat segera turun ke kampung kami, kasihan masyarakat kami yang terus menerus kesulitan air bersih. Rasanya, segala syarat untuk dioperasikan WTP ini, sudah terpenuhi, termasuk syarat 24 jam teraliri listrik,” ujarnya.

 

Harapan senada disampaikan warga yang juga mantan Ketua RT 10 Kampung Tumbit Melayu, Nurdin. Disampaikannya, air bersih merupakan kebutuhan pokok yang sangat diperlukan masyarakat Kampung Tumbit Melayu.

“Kami sebagai warga Tumbit Melayu sangat perlu dengan air bersih. Jadi tolong kepada PDAM, Pemerintah, ataupun PT Berau Coal, terutama untuk PDAM, agar dapat turun ke lapangan untuk meninjau supaya bisa berjalan air bersih di kampung kami,” tutupnya.(NR Dewi/bnc)