Berau Potensi Potong Kebijakan Impor “Aneh”

TANJUNG REDEB - Melihat peluang besar terhadap pengembangan ekonomi Berau, Wakil Bupati (Wabup) Berau, Agus Tantomo meminta semua Kepala Kampung untuk jeli melihat peluang usaha. Dengan tidak mengesampingkan kebutuhan riil warga kampung, pembukan peluang usaha dan pengembangan ekonomi itu diminta menjadi program kampung yang dampaknya langsung kemasyarakat.

Seperti rentannya Indonesia kekurangan pangan dan komoditi tertentu yang sebenarnya bisa dikembangkan di Berau, menurut Wabup merupakan peluang usaha terbesar yang bisa direbut kampung.

“Kenapa saya bilang peluang besar untuk kampung, karena lahan kosong terbesar ya dikampung, tinggal pilih mana saja sesuai dengan potensi daerah,” jelasnya. Sebanyak 100 kampung yang ada di Kabupaten Berau, ditegaskannya merupakan sebuah “lumbung” yang sangat kaya.

Agus mengaku, sempat memposting sebuah link situs berita nasional di salah satu grup media sosial lokal, dengan tujuan untuk “mencubit” pemerintahan kampung yang ada. “Saya sengaja agar kepala kampung bisa kreatif melihat peluang ini,” katanya lagi.

Seperti contoh impor singkong, yang menurut Wabup adalah kebijakan aneh sekaligus lucu. Sebab, jika hanya singkong, Indonesia seharusnya bisa ekspor melihat dari luasan lahan potensial. Mengutip dari salah satu situs berita online terkait kebijakan pemerintah pusat mengimpor cabai dan bawang putih dari Malaysia hingga Cina.

Apalagi hanya singkong dan cabai, bisa ditanam tanpa memerlukan teknologi pertanian yang canggih. “kenapa begitu saja harus sampai impor,” sambungnya. Dengan demikian, menurut Wabup, Berau memiliki peluang besar untuk ikut menekan angka impor untuk komoditi yang bisa dikembangkan sendiri dengan mudah.

Namun sekali lagi sengaja memposting link berita tersebut dengan sasaran utama adalah, bagaimana respon kepala kampung yang ada melihat peluang ini, kemudian mendorong warganya untuk kreatif dan tekun mengelola lahan dan mengembangkan komoditi yang bernilai ekonomis. Tanpa harus memikirkan komoditinya merupakan komoditi impor atau bukan.

“Tak Perlu mikir hanya diserap domestik yang penting laku, dan bisa menjadikan ekonomi keluarga dan daerah naik,” ujarnya lagi.

Karena memang sampai saat ini menurut Agus, ada banyak komoditi yang masih impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Meskipun sebenarnya mampu dikembangkan sendiri dengan memberdayakan petani Indonesia.(ar)