Masih Rendah, Petani Minta Harga Lada Jadi Perhatian Pemerintah

 

BATU PUTIH- Di tengah merosotnya harga jual lada di Kabupaten Berau yang hanya berkisar Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram, membuat petani mengaku kurang bersemangat dalam mengembangkan sektor perkebunan unggulan tersebut.

Pasalnya, rendahnya harga lada tersebut sudah cukup lama dirasakan dan tak kunjung normal. Hal ini pun mengundang banyak pertanyaan bagi sebagian petani lada, mengapa harga sampai begitu merosot, bahkan lebih parah sejak 4 tahun terakhir.

Seperti yang diungkapkan Semmi, salah seorang petani lada di wilayah Kampung Tembudan Kecamatan Batu Putih. Ia mengatakan, perlu ada solusi dari pemerintah agar harga lada tidak semakin merosot. Pasalnya, apa yang saat ini terjadi, sangat berdampak pada perkembangan perkebunan lada di Kabupaten Berau.

“Kalau saya menilai, ini harga terburuk sejak 4 tahun terakhir. Yang kita khawatirkan, semakin waktu harganya kian turun,” ujarnya kepada beraunews.com, Senin (14/08/2017).

Padahal disampaikannya, lada merupakan tanaman yang tengah menjadi primadona masyarakat Berau. Akan tetapi kata dia, jika harga lada tak kunjung membaik, tidak menutup kemungkinan banyak petani mulai meninggalkan tanaman rempah itu.

Untuk itu peran pemerintah dalam membantu petani sangat diharapkan, agar sektor perkebunan lada dapat kembali bergairah.

“Sebenarnya ini permasalahan lama yang tidak hanya dialami oleh petani lada saja. Semua petani di sektor perkebunan lain, atau pertanian juga mengalaminya. Hanya tinggal keseriusan dari pemerintah saja,” bebernya.

Sementara salah seorang petani yang bermukim di Kampung Bukit Makmur Jaya, Herman, juga mengatakan hal yang sama. Kendati dirinya tidak mengetahui penyebab pasti anjloknya harga lada saat ini, hal itu dinilainya cukup membuat petani sedikit patah semangat dalam mengembangkan tanaman lada.

“Jujur saja, saat ini kita bingung mau menjualnya kalau terlalu rendah, karena biayanya tidak sesuai dengan biaya pemeliharaan. Jika terlalu lama disimpan untuk menunggu harga normal kita khawatir akan rusak juga,” tandasnya.(bnc)

Wartawan: Hendra Irawan/Editor: Rita Amelia