Wisata Mangrove Masih Terkendala Akses Jalan

 

TABALAR – Wacana Kepala Kampung Buyung-Buyung, Kecamatan Tabalar, Mustafa, untuk menjadikan potensi hutan mangrove kampungnya sebagai wisata mangrove terus diupayakan.

Namun saat ini masih ada beberapa kendala yang dihadapi pihaknya dalam merealisasikan hal tersebut. Salah satunya akses jalan menuju hutan mangrove yang belum memungkinkan untuk menunjang objek wisata tersebut.

Pasalnya, saat ini kondisi jalan menuju kampung yang terkenal dengan hasil laut berupa udang tersebut, masih tergolong sulit untuk dilalui, baik kendaraan roda empat maupun roda dua, terutama pada musim hujan.

“Jalanan menuju kampung kami ini masih belum diaspal, jadi kalau musim hujan seperti saat ini masih sangat mengkhawatirkan, becek. Itu juga salah satunya yang masih menjadi kendala bagi kita, apalagi kalau mau dibangun wisata mangrove di sini, karena menuju hutan mangrove kondisinya juga sama,” katanya kepada beraunews.com, Kamis (23/02/2017).

BACA JUGA : Kampung Buyung-Buyung Berencana Kelola Wisata Hutan Mangrove

Padahal, menurutnya potensi untuk menarik wisatawan ke kampung tersebut cukup baik. Meskipun demikian, namun luasnya hutan mangrove yang juga memiliki habitat monyet hidung panjang atau lebih dikenal sebagai Bekantan, tidak boleh terkendala untuk dijadikan objek wisata hanya karena akses jalan yang kurang baik.

Untuk itu, ke depan ia akan memprogramkan perbaikan jalan kampung tersebut, termasuk menuju hutan mangrove sepanjang kurang lebih 17 kilometer. Bahkan, jika memungkinkan, jalanan tersebut akan ditembusksan ke Kampung Muara Radak.

“Ya semoga jalanan yang masih kurang layak ini kemudian nantinya bisa kita lakukan perbaikan, baik menggunakan dana ADK atau bagaimana. Nantinya kita akan usahakan supaya jalanan di kampung ini bisa beraspal, agar lebih mudah menjangkau kampung kami, maupun objek wisata mangrove yang akan kami usahakan agar terealisasi juga,” pungkasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia