Manjakan Warga Guna Pola Hidup Bersih

 

SAMBALIUNG – Salah satu penyakit masyarakat saat ini adalah masalah kebersihan lingkungan. Guna mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih baik terhadap lingkungan, Kepala Kampung Gurimbang, Kecamatan Sambaliung,  Madri Pani memulainya dari diri sendiri. Baginya, jika menginginkan perubahan yang lebih baik, maka merubahnya dari diri sendiri terlebih dahulu.

“Kalau masalah kebersihan, saya sebagai kepala kampung harus menjadi contoh terlebih dahulu. Paling tidak dari kantor dan rumah saya harus bersih dan memberi contoh untuk memaksimalkan tempat sampah yang ada,” ungkapnya saat ditemui beraunews.com kemarin.

Dikatakannya, setelah diri sendiri kemudian terjun ke masyarakat dengan membuat program fasilitas kebersihan dengan mengadakan bak sampah di depan rumah warga agar masyarakat sadar dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Memang awalnya tidak mudah, tapi pelan-pelan kita beri contoh dan imbauan kepada masyarakat mereka akan mengerti,” tambahnya.

Selain itu, Madri juga mengagendakan gotong royong dalam 1 bulan 1 kali dengan melakukan bersih-bersih di salah satu rumah warga yang dianggap kotor. Dengan demikian, masyarakat yang rumahnya dibersihkan akan sadar, jika dirinya masih perlu menjaga lingkungan sekitar rumah mereka.

“Kita selalu gelar gotong royong, tapi kita cenderung membersihkan satu rumah warga yang kotor, dengan demikian kedepannya ia akan merasa malu kalau rumahnya kotor, dan cara ini efektif membuat masyarakat sadar akan kebersihan,” terangnya.

Terkait masalah kebersihan yang saai ini jadi kendala di Kampung Gurimbang, Madri mengatakan, adanya sirkulasi pasang surut air sungai. Jadi meski sungai sudah bersih dari sampah, namun saat air sungai pasang, maka sampah-sampah akan kembali ke permukiman.

“Tapi itu perlahan akan kita coba mencari solusinya, yang jelas kita utamakan bagaimana masyarakat bisa bersih,” tambahnya.

Kedepannya, Madri menginginkan agar di dapur warga juga bisa disediakan tempat sampah, sehingga bekas bumbu atau sampah-sampah makanan bisa dibuang ke tempat sampah dan selanjutnya dibuang ke bak sampah induk yang ada di depan rumah warga.

“Paling tidak programkan untuk manjakan warga kita dulu, sehingga mereka tidak membuang sampah-sampah melalui jendela atau kolong rumah, kalau ada tempat sampah didapur, mereka bisa membuangnya sementara disitu dan setelah masak bisa dibuang ke tempat sampah induk di depan rumah dan petugas siap mengangkutnya,” bebernya

Dengan program kebersihan yang sudah dilakukan itu, sejak tahun 2014 kesehatan masyarakat pun jadi meningkat, padahal sebelumnya warga kampung kerap terkena penyakit chikungunya, demam berdarah, muntaber dan diare yang berlebihan.

“Setelah kita rubah masyarakat ke pola hidup bersih dan sehat, sekarang sudah hampir tidak ada lagi warga yang terserang penyakit seperti itu, dan ini yang harus kita pertahankan dan tingkatkan. Walaupun ada, untuk penanganannya cukup ditangani di kampung, dan kalau pun memang parah sekali baru dirujuk ke RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah-red),” paparnya.

Untuk fasilitas kesehatan sendiri, diakui Madri masih kurang. Pasalnya di Kampung sendiri hanya ada Mantri, padahal setidaknya ada dokter yang bisa melakukan tindakan lebih baik agar masyarakat bisa mendapat penanganan lebih baik juga.

“Kalau kita disini hanya punya Puskesdes (Pusat Kesehatan Desa-red) dan Pustu (Puskesmas Pembantu), padahal setiap Kecamatan paling tidak ada dokter khusus lah. Jadi dalam 1 bulan dokter bisa berkeliling ke kampung-kampung. Kalau Mantri kan tindakannya terbatas, mereka tidak bisa melakukan tindakan yang harus dilakukan oleh dokter. Yakinlah, kalau ada dokter, maka penanganan kesehatan masyarakat bisa lebih baik,” pungkasnya.(dws/adv)