Profil dan Sejarah Gurimbang, Kampung Juara Nasional

 

 

SAMBALIUNG – Gurimbang merupakan kampung yang berada di Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau. Luasnya sekitar 130 Km persegi, dengan jumlah penduduk kurang lebih 1.075 jiwa. Di kampung ini penduduknya mayoritas suku Berau atau suku asli Banua. Sehingga wajar, ketika kita mengunjungi kampung yang terkenal hingga ke kancah nasional lewat program jamban sehat oleh kepala kampungnya saat ini, Madri Pani, hampir seluruh warganya berbicara dengan logat bahasa suku Banua.


Nama Kampung Gurimbang, dikisahkan Madri, merupakan adopsi dari bahasa Berau, yakni ‘Gurimbangan’ yang berarti ‘tepi sungai yang dalam dan tidak berpantai’. Memang tidak jelas asal-usul siapa yang pertama kali memberikan nama kampung tersebut dengan nama Gurimbang. Begitu juga dengan sejarah kapan terbentuknya kampung tersebut, tidak dapat dipastikan. Sebab selama ini, tidak pernah ada catatan atau peninggalan yang dapat dijadikan rujukan ke masa lalu, selain hanya cerita turun-temurun dari para orang tertua disana maupun melalui kajian partisipatif yang dilakukan para tokoh masyarakatnya.

“Tetapi yang pasti, kondisi sungai yang ada di Kampungan Gurimbang memang sesuai dengan makna Gurimbangan yang sebenarnya,” tutur Madri yang juga menyandang gelar sebagai kepala kampung teladan tingkat nasional ini.

Diperlukan waktu tidak lebih dari 25 menit dari Kota Tanjung Redeb, untuk mencapai Kampung Gurimbang. Tidak lama setelah melewati Kampung Bebanir Bangun, kita sudah bisa melihat papan selamat datang di Kampung Gurimbang, yang dihiasi dengan beberapa patung berbentuk orang-orangan di beberapa sisinya. Tak hanya itu, di sisi lain juga terdapat taman yang ditumbuhi beberapa jenis bunga sebagai hiasannya. Di taman tersebut tertulis nama Bupati Berau, Muharram dan Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo, sebagai pemimpin daerah Kabupaten Berau saat ini.

Beberapa tahun yang lalu, jalan menuju kampung yang mulai melakukan pertumbuhan pesat ini, cukup sulit dijangkau. Betapa tidak? Akses jalan menuju pemukiman warga disana masih berupa tanah kuning, yang sewaktu-waktu ketika hujan turun akan becek dan licin. Tidak jarang beberapa motor yang melintas justru terjatuh akibat kondisi jalan yang demikian. Lain lagi ketika musim kemarau, jalan tersebut memang tidak licin, namun debu yang tidak terkira selalu menjadi musuh bagi pengendara yang melintas.

Namun pada tahun 2014-2015, untuk membalas semua kesengsaraan warga terhadap akses jalan menuju Kampung Gurimbang, pemerintah daerah, baik provinsi (tahun 2014) maupun kabupaten (2015) merealisasikan jalan aspal sepanjang kampung tersebut. Alhasil, lalu-lalang kendaraan menuju Kampung Gurimbang, menjadi lebih mudah, aman dan nyaman. Hal itu juga secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap perkembangan kampung ke arah yang lebih baik.

Sekitar tahun 1930-an, kondisi alam Kampung Gurimbang, masih sangat alami dan belum banyak terjamah oleh tangan-tangan manusia. Sehingga hutan yang ada pada saat itu tergolong hutan yang sangat lebat, ukuran sungainya pun masih cukup sempit. Keberadaan pulau-pulau di sana juga masih cukup berdekatan. Tidak ada pencemaran air dan hasil perkebunan serta pertaniannya begitu melimpah. Keadaan itu didukung dengan jumlah penduduk yang pada saat itu masih sangat sedikit.

Tahun 1933, pada masa penjajahan kolonial Belanda, kondisi tanah diperkampungan tersebut masih sangat subur. Namun, akibat peperangan yang terjadi, orang-orang ketakutan dan mulai bersembunyi ke dalam hutan. Hal itu membuat hasil perkebunan maupun pertanian mereka menurun, akibat kondisi lahan yang tidak terawat lagi. Orang-orang mulai sulit mendapatkan makanan dan pakaian. Sempat berlaku sistem barter barang (tukar menukar barang yang dibutuhkan) dikalangan masyarakat setempat. Setelah sekian waktu, perlawanan terhadap penjajah (Belanda-red) digaungkan.

Di tahun 1937, kapal-kapal yang biasa digunakan mengangkut barang belum bisa memasuki perairan di kampung tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat berinisiatif mengolah hasil perkebunan berupa tebu menjadi gula, mengolah apung menjadi garam, serta beberapa hasil alam lainnya. Masyarakat yang hidup pada masa itu, belum mengenakan pakaian dari kain seperti yang saat ini kita gunakan. Mereka memanfaatkan karung goni sebagai pakaian untuk melindungi tubuh dari suhu panas dan dingin. 

Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 1941 hingga 1951, jumlah penduduk di kampung tersebut mulai bertambah. Pertambahan penduduk tersebut mendorong hadirnya sekolah rakyat. Masyarakat mulai diberikan pendidikan bahasa Jepang. Sekolah Dasar (SD) pun sudah mulai dibentuk demi kemajuan dunia pendidikan masyarakat pada saat itu. Masyarakat mulai berpikir tentang pembangunan, salah satunya dengan membuat dan memperbaiki jalan-jalan setapak yang ada. Hasil perkebunan dan pertanian mereka mulai kembali berlimpah. Pada saat itu, masyarakat belum mengenal istilah kepala kampung. Mereka masih menggunakan nama kepala adat sebagai sebutan bagi pemimpin di kampung mereka.

Di tahun 1970, masyarakat setempat masih menggunakan jasa dukun kampung sebagai dokter mereka. Maklum, pada jaman itu belum ada dokter maupun bidan dan sebagainya yang melayani kesehatan masyarakatnya. Penduduk mulai membuka lahan persawahan sebagai sektor tambahan penghasilan mereka.

Tahun 1985 hingga 1996, Akses jalan dari kabupaten menuju kampung sudah mulai terbuka. Dampaknya, transmigrasi mulai marak. Maka tak heran jika saat ini penduduk kampung tersebut tidak hanya suku asli Berau saja. Jalanan yang belum beraspal, diperbaiki dengan cara menimbunkan bebatuan, bahkan jalanan mulai ada yang disemenisasi. SD yang berdiri di kampung tersebut, mulai mendapatkan rehabilitasi karena bangunannya yang mulai tidak memungkinkan lagi. Untuk pelayanan kesehatan, penduduk sudah mulai lega karena adanya Puskesmas Pembatu (Pustu) yang dilengkapi seorang mantri.

Tahun 2003, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sudah mulai dibangun. Begitu juga dengan sambungan aliran listrik dari PLN, sudah mulai dirasakan oleh warga setempat. Kemajuan demi kemajuan Kampung Gurimbang, benar-benar membawa perubahan bagi kampung itu sendiri. Semakin banyak penduduk yang bermukim di kampung tersebut membuat kampung menjadi semakin ramai. Dampaknya, untuk memperoleh kayu sebagai bahan bangunan rumah menjadi semakin sulit. Namun kebutuhan akan air bersih sebagai sumber kehidupan sehat masyarakat belum terpenuhi.

Pada tahun 2011 hingga saat ini, pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan kampung, terutama pada saat masa kepemimpinan Madri Pani, terus meningkat tajam. Air bersih sudah tersedia. Jalanan menuju kampung di aspal bahkan fasilitas-fasilitas pendukung pertumbuhan kampung terus dibangun. Masyarakat yang dulunya menggunakan kayu bakar, mulai beralih menggunakan bahan bakar gas atau LPG.

Kemajuan Kampung Gurimbang semakin terlihat nyata ketika Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, memberikan penghargaan secara langsung kepada Kepala Kampung Gurimbang, Madri Pani, sebagai kampung terbaik dan kepala kampung teladan tingkat nasional pada tahun 2015, di istana negara.()