Sulit Dapat KTP, Warga Segah Meninggal

 

TANJUNG REDEB – Seorang warga Kampung Tepian Buah Kecamatan Segah, diduga meninggal dunia karena komplikasi kesehatan yang cukup serius. Almarhum yang diketahui bernama Udau Laung (42), meninggal setelah mendapat perawatan medis di RSUD dr. Abdul Rivai Tanjung Redeb selama sepuluh hari.

Kepala Kampung Tepian Buah, Surya Emi Susianthi yang dikonfirmasi terkait kematian salah seorang warganya itu, mengakui jika memang Udau Laung tercatat sebagai salah satu warganya yang mengalami gangguan kejiwaan. Namun, saat dibawa ke rumah sakit, baru diketahui jika ia juga mengalami gangguan ginjal dan kanker. Namun, dalam perjalanannya, Udau Laung harus meninggal dunia sebelum dirujuk ke Samarinda.

“Dia meninggal jam 8 pagi tadi di rumah sakit, almarhum juga langsung dibawa ke kampungnya untuk disemayamkan sebelum akhirnya dikebumikan” ujar Emi saat di hubungi beraunews.com, Senin (09/01/2016).

Kepergian salah seorang warganya itu, rupanya menyisakan cerita pilu bagi keluarga maupun pemerintah kampung. Pasalnya, Udau Laung yang notabene sebagai masyarakat tidak mampu, mengalami beberapa kesulitan saat melakukan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Seperti ketika akan dibawa pulang ke rumah setelah pihak keluarga pasrah dengan kondisi kesehatannya, warganya itu harus tertahan akibat belum menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit.

Tak sampai disitu, proses kepengurusan Jamkesda dari Dinas Sosial juga cukup sulit akibat almarhum tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), padahal perintah kampung sudah mengajukan permohonan perekaman KTP ke Disdukcapil Berau. Akan tetapi pihak Disdukcapil meminta si pemohon melakukan perekaman langusng ke kantor, sementara kondisi pemohon dalam keadaan sekarat di rumah sakit.

“Saya sudah buatkan surat miskin, surat keterangan tidak mampu, surat keterangan sebagai warga Tepian Buah dan tidak memiliki identitas. Saya buatkan juga surat terlantar dari kepolisian, tetapi masih tetap ditolak Dinsos. Parahnya, proses pemulangan jenazah pun sempat terhamabt akibat belum menyelesaikan pembayaran administrasi. Untung saya menelepon Wabup tadi, sehingga langsung cepat, kalau tidak mungkin mayatnya masih di rumah sakit, tertahan,” keluhnya.

Terpisah, Humas RSUD dr. Abdul Rivai, Erva Anggriana saat dikonfirmasi, membantah segala tudingan yang disampaikan kepala kampung. Menurutnya, selama ini pasien telah dilayani secara maksimal sesuai dengan ketentuan Jamkesda yang dimiliki. Sementara terkait adanya tuduhan pihak rumah sakit yang mempersulit proses pemulangan jenazah, itu juga tidak benar.

“Pasien ini menderita kanker buli-buli (kandung kemih-red) dan gagal ginjal, sehingga memang harus dilakukan observasi terus dan tidak dianjurkan pulang. Jadi kembali saya tegaskan soal tudingan dia ditahan rumah sakit karena belum membayar biaya administrasi itu tidak betul. Begitupun saat meninggal, kami tahan 2 jam itu karena untuk memastikan apakah pasien ini benar meninggal atau hanya mati suri,” jelasnya.

Bantahan juga dilontarkan pihak Disdukcapil. Kepala Disdukcapil Berau, Fredy Suryadie mengaku, jika permohonan perekaman KTP baru diajukan pihak kampung, Senin (09/01/2016) pagi tadi, melalui petugas Kecamatan Segah. Bahkan permohonan telah diproses guna memudahkan proses pelayanan di rumah sakit.

"Permohonannnya baru masuk pagi tadi, nah sekarang infonya si pasien sudah meninggal. Kita sesalkan ini. Kami tidak pernah menolak perekaman. Kapan pun dimanapun kami siap, karena perekaman kan ada sistem online dan offline, apalagi sifatnya darurat harus diutamakan" tutupnya singkat.(bnc)

Wartawan: M.S. Zuhrie/Editor: R. Amelia