Begini Cara Warga Jaga Hutan Lindung Sungai Lesan

 

KELAY – Berbagai upaya dilakukan masyarakat di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau untuk mempertahankan warisan alam terhadap kehidupan masyarakatnya secara utuh. Khususnya, kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL).

Masyarakat setempat yang terdiri dari 4 kampung sekitar, yakni Kampung Lesan Dayak, Muara Lesan, Merapun dan Sidobangen, membentuk kelompok yang mereka sebut Forum HLSL. Tetap melindungi kawasan hutan sebagai tabungan jangka panjang, adalah tujuannya.

Ketua Forum HLSL, Andreas melalui Sekretarisnya, Samuel Hatsong menuturkan, kelompok yang baru terbentuk tersebut untuk menggantikan tugas kelompok sebelumnya.

"Karena sebelum ini, sebenarnya ada badan pengelola yang tugasnya serupa. Akan tetapi, para pengurusnya bukan berasal dari masyarakat yang tinggal di Kelay, maka lambat laun fakum dan hilang,” ungkapnya kepada beraunews.com, Kamis (3/11/2016).

Untuk itu, F-HLSL tersebut kemudian dibentuk melalui kesepakatan dan keinginan masyarakat lewat stakeholder terkait serta Operasi Wallacea Terpadu (OWT), lembaga swadaya masyarakat setempat.

“Tujuannya untuk memudahkan pelaksanaan program kerja kita menjaga dan mengamankan hutan lindung yang sudah ditetapkan Kementerian Kehutanan ini seluas 13 ribu hektar lebih, hampir 14 ribu hektar,” tambahnya.

 

Untuk diketahui, keberadaan HLSL ini sendiri tidak serta merta menyandang status sebagai hutan lindung melainkan melalui proses panjang. Diterangkan Samuel, pada awalnya hutan sungai Lesan menjadi tempat banyak sekali penelitian lingkungan termasuk satwa liar yang ada didalamnya. Salah satunya orang utan.

"Pada 2004 lalu terbit SK Bupati, hutan lindung dengan luasan 11 ribu hektar lebih, kemudian 2014 lalu terbit lagi SK Menteri dan luasannya bertambah menjadi 13 ribu hektar,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Camat Kelay, Toris menegaskan, pihaknya mendorong terbentuknya forum seperti ini sebagai bagian dari komitmen menjaga lingkungan HLSL yang ada.

“Jadi kami bertanggung jawab bersama, kami menolak adanya oknum atau kelompok yang tak bertanggung jawab masuk untuk melakukan pengrusakan,” tegasnya.

Untuk itu, disebutkan, didalam forum ini terdapat banyak instansi yang terlibat termasuk partisipasi aparat kepolisian dan koramil setempat. Dalam monitoring yang dilaksanakan pada Sabtu (29/10/2016) lalu F-HLSL beserta sejumlah penggiat lingkungan lainnya mendatangi HLSL. Dilakukan kunjungan ke objek air terjun Gorila yang merupakan salah satu sumber potensi wisata alam yang ada didalam HLSL.

"Itu merupakan sebuah warisan alam buat kami yang ada disini, sehingga mengajak seluruh masyarakat yang ada untuk saling bahu membahu menjaga kelestarian hutan kita ini,” tandasnya.(Iin Maisaroh)