Sumpah Pemuda Ke-88, Momentum Pemuda Berau Berkarya Dampingi Desa

Manusia memiliki hal yang evident (jelas) dalam dirinya, yakni fitrah dengan ragam potensi dan aktualnya. Seperti halnya manusia, begitu juga dengan Desa. Di Indonesia, desa berjumlah ±74.754 di tahun 2015 yang memiliki keragaman dan kompleksitas potensi yang akan aktual mengikuti nalar perubahan dunia.

Kabupaten Berau memiliki luas wilayah 34.127,47 km2 terdiri dari daratan seluas 21.951,71 km2 dan luas laut 11.962,42 km2, serta terdiri dari 52 pulau besar dan kecil dengan 13 Kecamatan, 10 Kelurahan, 100 Kampung/Desa (berauKabupatengo.id). Artinya Kabupaten Berau juga memiliki berbagai macam potensi desa.

Potensi desa bukan saja terletak pada aspek-aspek material yang melimpah seperti Sumber Daya Alam (SDA) yang bisa diproduksi menjadi industri manufaktur (hulu) ataupun industri kecil dan menengah (hilir) yang mampu menciptakan ragam lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa. Keberadaan potensi yang telah aktual atau yang telah diberdayakan tentu akan mengalami fase degradasi (penyusutan).

Sebuah pembaharuan SDA membutuhkan rentang waktu bertahun-tahun untuk bisa terbarukan. Perangkat desa yang terlatih, terdidik, terpercaya dalam mengelola potensi desa diharapkan mampu mengatur sumber daya desa. Sudah sepatunya pemerintah tidak lagi berharap pada SDA terbarukan dan tak terbarukan, namun fokus pada kekuatan (empowerment) Sumber Daya Manusia (BJ Habibi, Presiden ke-3 RI).

Pemuda dan Kepemudaan
Fakta sejarah dari peran pemuda cukup memberikan ruang perubahan untuk negara Indonesia, salah satu dari sekian fakta sejarah adalah berdirinya organisasi modern Budi Utomo pada 1908, kemudian pada Kongres Pemuda I di tahun 1926 dan Kongres Pemuda II di tahun 1928 yang ditengarai oleh Sumpah Pemuda. Dan sekarang 88 tahun sudah Sumpah pemuda hidup di dalam sistem pengetahuan manusia Indoneisa, yang diharapkan mampu menjadi role dalam praksis berkehidupan dan berkenegaraan.

Bila mengacu pada UU Nomor 40/2009 tentang Kepemudaan, pemuda dibatasi pada rentang usia 16-30 tahun. Terhitung sejak 2014, ada 61,83 juta jiwa atau 24,53 persen jumlah penduduk Indonesia berumur 16-30 tahun dari 252.035.065 juta jiwa (BPS,2015, Sensus Pemuda Indonesia 2014). Sementara itu, banyaknya penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin 2015 Kabupaten Berau, dalam hal ini usia 15-30 tahun sekitar 79.824 jiwa.
 
Pemuda merupakan unsur yang menarik dan esensial dalam suatu gerakan perubahan, karena di dalam jiwa pemuda terdapat kerelaan berkorban demi cita-cita. Jika pemuda adalah aspek lahiriah, maka kepemudaan adalah batiniah (jiwa) yang memiliki cita rasa perubahan dan secara potensial dimiliki oleh keseluruhan manusia (pemuda).

Dengan begitu sekiranya penting pemuda sebagai harapan masa depan bangsa Indoneisa harus dibina agar potensi roh/jiwa kepemudaanya sebagai pembeharu (social change) dapat teraktual untuk membangun negara, bangsa, daerah dan desa tempat ia tumbuh besar.

Pemuda Pendamping Desa
Permasalahan yang sering mengemuka pada pemuda, sering dipicu oleh beberapa hal, antara lain :

  1. Ketidak percayaan tetua (orang tua) atau dalam hal ini perangkat desa kepada pemuda yang diklaim minim pengalaman (hard & soft skill).
  2. Realitas pemuda yang telah menempuh studi, pergi merantau ke kota mencari pekerjaan sesuai passionnya.
  3. Personalitas pemuda yang masih dalam kecendrungan hedon. Kabupaten Berau pernah menyandang predikat nomor 1 dengan kasus pengguna narkoba terbanyak.

Maka diharakan dengan adanya UU Nomor 6/2014 tentang Desa, perangkat desa diharapkan inklusif dan memberi kesempatan kepada pemuda yang lahir dari realitas sosial desa turun tangan untuk ikut berpatisipatif dalam menjaga dan mengawal keberlangsungan pembangunan dan penyelenggaraan desa.

Jika berkaca pada beberapa program berskala nasional, seperti program kesehatan dan pendidikan sering tidak efektif dikalangan masyarakat desa, karena kerap terjadi missing pada level sosialisasi. Untuk itulah pemuda diharapkan berpatisaptif, karena pemuda tersebut memahami psikologis sosial desa untuk merajut komunikasi-komunikasi yang missing understanding dalam sistem pengetahuan masyarakat desa.

Bentuk partisipasi pemuda dapat ditempuh dengan berbagai cara, dalam tulisan ini memfokuskan partisipasi pemuda sebagai fasilitator pendamping desa. Fasilitator adalah seseorang yang terlibat dalam kegiatan fasilitasi. Mereka membantu sekelompok orang memahami tujuan umum mereka dan membantu mereka untuk merencanakan bagaimana untuk mencapai tujuan, dalam melakukannya.

Hal tersebut sejalan dengan amanah konstitusi yang diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) Desa PDT dan Transmigrasi Nomor 3/2015 tentang Pendampingan Desa. Bila mencermati Permen tersebut, tugas yang paling asasi dari partisipasi pemuda sebagai fasilitator pendamping desa adalah :

  1. Mendampingi desa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan terhadap pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat Desa;
  2. Melakukan peningkatan kapasitas bagi Pemerintahan Desa, lembaga kemasyarakatan Desa dalam hal pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa.

Dengan 13 Kecamatan, 10 Kelurahan, 100 Kampung/Desa dan Pemuda sekitar 79.824 jiwa, diharapkan menjadi sumber daya manusia yang produktif, aktif dan partisipatif dalam membangun dan menjaga kestabilan negara, daerah dan desa. Semoga melalui momentum Hari Sumpah Pemuda Ke-88 ini, sumber daya manusia yang dimaksud itu disebut Pemuda Berau.

* Syamsuddin Juhran (Mahasiswa PPs Pendidikan Nonformal UNY, dan Pegiat Literasi di Kawal Literasi Berau)