Petani Bingung Buka Lahan

 

TALISAYAN – Besar kemungkinan produktivitas pertanian di sejumlah wilayah yang ada di Kabupaten Berau akan menurun. Salah satu penyebabnya, yakni kurang semangatnya petani bercocok tanam padi.

Bukan dikarenakan hama, atau musim yang tidak cocok untuk bertani, melainkan petani mengalami kesulitan membuka lahan. Seperti yang terjadi di wilayah Pesisir Selatan Berau, terlebih di Kecamatan Talisayan, Batu Putih, dan Kecamatan Biatan, dimana petaninya masih menerapkan sistem membakar lahan untuk bertani. Hal itu bahkan sudah menjadi budaya, dan tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh warga disana.

Akan tetapi, akhir-akhir ini petani mulai ragu-ragu untuk kembali melakukan cara yang sama. Pasalnya, jika ketahuan membakar lahan jelas hukuman berat bakal menanti. Selain pidana, denda miliaran rupiah juga akan diterima pelaku pembakaran.

Seperti yang diungkapkan Arifin, salah seorang petani padi di wilayah Talisayan. Ia mengatakan, tidak bisa bertani lantaran tidak bisa membuka lahan sesuai yang direncanakan. Diakuinya, dalam membuka lahan memang dilakukan dengan cara dibakar karena lebih hemat biaya. Namun, saat ini ia sudah tidak bisa lagi membakar lahan lantaran takut ditangkap aparat hukum.

“Kita disuruh membuka lahan manual, itukan perlu biaya tidak sedikit. Beda dengan perusahaan, mereka bisa turunkan alat berat. Tinggal dorong, selesai. Sementara kita mau pakai apa, bayar orang, sewa alat? Buat sehari-hari saja kita usaha keras,” ungkapnya pada beraunews.com, Sabtu (1/9/2016).

Sementara, Plt Camat Talisayan, Husdiono membenarkan keluhan petani tersebut. Kendati demikian apa yang telah menjadi aturan dan diterapkan pemerintah harus diikuti dan dijalankan.

"Kalau sudah begitu aturannya, harus diikuti. Tapi setidaknya ada solusi sebelum aturan seperti ini diterapkan," jelasnya.

Ia juga menyampaikan, pembakaran lahan tersebut merupakan kebiasaan masyarakat sejak zaman dulu untuk bertani, selain tidak menggunakan banyak tenaga, juga hemat biaya.

"Tapi kalau ingin diterapkan cara modern, selayaknya investor besar membuka lahan, saya rasa itu hal yang mustahil bagi masyarakat petani," bebernya.

Ternyata masalah serupa juga terjadi di Kecamatan Segah. Camat Segah, Syafri mengatakan, pembakaran lahan memang dilarang untuk dilakukan. Hanya lanjut dia, masyarakat petani yang ada di wilayah Segah mendapat kebijaksanaan terkait hal tersebut. Menurutnya, pembakaran bisa saja dilakukan, namun harus sesuai adat dan tradisi masyarakat Segah, dimana kalau membakar harus diberi blok agar api tidak melebar.

 

"Lahan yang dilarang keras dibuka dengan cara dibakar adalah lahan gambut yang ada di Segah. Sedangkan lahan kering dan dataran tinggi, ada kebijaksanaan, namun harus sesuai adat istiadat di Segah," terangnya.

Sementara untuk lahan gambut, lanjut dia, sudah ada program percetakan sawah, sehingga petani dapat bertani padi tanpa membakar lahan.

"Sementara masih dikerjakan, rencana luasnya mencapai 100 hektar," pungkasnya.(Hendra Irawan)